MERETAS SESAT V-DAY BERBALUT KEINDAHAN CINTA SEMU


                                                         
“Sayangilah apa yang ada di bumi, niscaya apa yang ada di langit akan menyayangimu.” Demikian bunyi hadits yang tertulis di poster dan terpasang di antara tumpukan coklat di sebuah minimarket. Foto ini pun viral di media sosial. Sebuah legalisasi kemaksiatan berdalih syariat.  

Berbagai upaya dilakukan para kapitalis demi mengeruk keuntungan jelang perayaan Valentine’s Day (V-Day). Kelindan bisnis kapitalis dan perilaku kaum liberalis kental menyelimuti ajang “berkasih sayang” ini. 

Minimarket dan supermarket berlomba-lomba menggelar berbagai pernak-pernik pendukung V-Day. Para remaja pun berburu kado spesial yang unik dan menarik agar perayaan V-Day berkesan mendalam bagi pasangannya. Ada buket bunga mawar, coklat dalam kotak berbentuk hati, perhiasan, CD lagu romantis, permen, hingga kartu valentine. 

Sejumlah hotel dan restoran juga menawarkan promo dinner pada pelanggan. Promo yang disiapkan untuk memberikan pengalaman lebih kepada tamu yang ingin merayakan V-Day bersama orang terkasih. Tak jarang pihak hotel  tidak mempersalahkan pasangan yang datang membooking kamar tanpa surat nikah atau KTP. 

Perayaan V-Day juga dijadikan ajang untuk melegalkan seks bebas. Atas dasar hari kasih sayang, mereka yang merayakan memberikan apa pun kepada pasangannya termasuk menggadaikan kehormatan. Fenomena Sex on Valentine bukanlah isapan jempol.  

Jika seks bebas sudah dianggap sebagai bagian dari perayaan ini, maka tak heran akan ditemukan banyaknya penyebaran alat kontrasepsi menjelang momen V-Day. Data Durex, menurut Reza, menyebutkan bahwa penjualan kondom tertinggi jatuh pada hari cinta dan intimasi tersebut, di mana kenaikan penjualan pada hari tersebut mencapai 25 persen (Tribunnews.com, 14/2/2017). 

Karena rawan seks bebas dan obat terlarang inilah, beberapa pejabat pemerintah daerah berinisiatif membuat surat edaran pelarangan perayaan V-Day di wilayahnya. Seperti yang dilakukan oleh  Dinas Pendidikan Jawa Barat dan Pemkab Tuban.  

Di tengah arus globalisasi yang meniscayakan intervensi pemikiran asing (di luar Islam), sanggupkah umat Islam membentengi  generasi mudanya dari serangan virus merah jambu ala V-Day dan berbagai ide sesat lainnya? 


V-Day, Membalut Maksiat  dengan Keindahan Cinta Semu Sesaat
----------------------------------------

Meski nasihat dan himbauan para ulama, ustadz-ustadzah tentang Valentine selalu didengungkan tiap bulan Februari, tapi ternyata masih banyak orang tua dan remaja yang berpemahaman salah tentang V-Day. V-Day seolah diposisikan sebagai "ajang legal" merepresentasikan cinta terhadap pasangan. 

Meski cinta yang mereka maksudkan tak lebih dari sekadar memenuhi syahwat dan berkehendak mendapat kenikmatan sesaat. Yang justru mengantarkan pada cinta sesat, semu. Inilah salah satu wujud kemunduran berpikir generasi yang hanya mampu berpikir memenuhi keinginan/naluri tanpa menghubungkannya dengan ajaran ilahi. 

Sangat jauh dari pemaknaan cinta hakiki ala Islam. Yang menyandarkan kecintaan utama pada Allah dan Rasul-Nya. Dan saat rasa cinta itu hinggap di dirinya, maka ia berupaya untuk mengejawantahkannya sesuai apa yang Allah tuntunkan pada hamba-Nya. 

Kian jauhnya umat Islam dari dari ajaran Islam kaffah dan silaunya mereka pada segala sesuatu yang datang dari Barat yang dianggap sebagai kebaikan, modern dan hebat, menyebabkan sebagian umat Islam masih merayakannya. 

Secara umum, ada tiga kelompok kaum muslimin dalam menyikapi V-Day. Pertama, tidak mempermasalahkan V-Day meskipun ada seks bebasnya, bahkan sering ikut merayakannya.  Kedua, menolak seks bebas tapi tetap merayakan V-Day dengan menganggap sebagai budaya remaja modern dan untuk fun-fun saja. Ketiga, menolak V-Day baik terdapat seks bebas maupun tidak, karena tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Menyitir penjelasan Hj. Irena Handono (kristolog) tentang sejarah Valentine, Ken Sweiger dalam artikel “Should Biblical Christians Observe It?” mengatakan kata “Valentine” berasal dari Latin yang berarti : “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. 

Maka disadari atau tidak, -tulis Ken Sweiger- jika kita meminta orang menjadi “to be my Valentine,” hal itu berarti melakukan perbuatan yang dimurkai Allah Swt karena pemujaan kepada berhala. Dalam Islam, hal ini disebut syirik yaitu menyekutukan Allah Swt. 

Hari Valentine sesungguhnya berasal dari tradisi masyarakat di zaman Romawi Kuno, masyarakat kafir yang menyembah banyak Tuhan juga berhala. Ia adalah bentuk sinkretisme agama, mencampuradukkan budaya pagan dalam tradisi Kristen. 

Dan akhirnya diresmikanlah Hari Valentine oleh Paus Gelasius pada 14 Februari di tahun 498. Melalui kelihaian misionaris, Valentine’s Day dimasyarakatkan secara internasional. Meski hingga kini Gereja Katholik sendiri tidak bisa menyepakati siapa sesungguhnya St Valentine. Namun, perayaan ini dirayakan secara resmi di Gereja Whitefriar Street Carmelite di Dublin-Irlandia.

Adapun di Indonesia, V-Day disebut ‘Hari Kasih Sayang’, disimbolkan dengan kata ‘love’. Padahal kalau kita jeli, kata ‘kasih sayang’ dalam bahasa Inggris bukan ‘love’ tetapi ‘affection’. Tapi mengapa di negeri-negeri muslim seperti Indonesia dan Malaysia, menggunakan istilah Hari Kasih Sayang. Ini penyesatan.

Makna ‘love’ sesungguhnya adalah sebagaimana sejarah Gamelion dan Lupercalia pada masa masyarakat penyembah berhala, yakni sebuah ritual seks/perkawinan. Jadi V-Day memang tidak memperingati kasih sayang tapi memperingati love/cinta dalam arti seks. Atau dengan bahasa lain, V-Day adalah Hari Seks Bebas. Pada faktanya, tradisi seks bebaslah yang berkembang sekarang di Indonesia.  

Sejatinya, perayaan V-Day merupakan bagian dari liberalisasi budaya yang dilancarkan oleh Barat dengan terget pendangkalan akidah generasi muda Islam dan melepaskan mereka dari ketundukan terhadap hukum Allah Swt. 

Sebagaimana dikatakan Samuel  Zweimer dalam konferensi gereja di Quds (1935): “Sebenarnya tugas kalian bukan mengeluarkan orang-orang Islam dari agamanya menjadi pemeluk agama kalian. Tetapi menjauhkan mereka dari agamanya (Alquran dan Sunnah). Sehingga mereka menjadi orang-orang yang putus hubungan dengan Tuhannya dan sesamanya (saling bermusuhan), menjadi terpecah belah dan jauh dari persatuan. Dengan demikian kalian telah menyiapkan generasi-generasi baru yang akan memenangkan kalian dan menindas kaum mereka sendiri sesuai dengan tujuan kalian. Generasi yang sesuai dengan kehendak kaum penjajah, generasi malas yang hanya mengejar kepuasan hawa nafsu.”


Bahaya V-Day, Mencipta Generasi Muda Muslim Kian Liberal
----------------------------------------

Agenda liberalisasi budaya oleh Barat terhadap negeri muslim tidak lepas dari motif penjajahan. Dengan liberalisasi budaya, masyarakat di negeri-negeri muslim termasuk di  negeri ini, akan kehilangan identitas lalu memakai baju Barat atau bahkan mengekor identitas Barat tanpa mempertimbangkan halal atau haram. 

Sebagaimana sabda Rasulullah Saw: “Kamu telah mengikuti sunnah orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga mereka masuk ke dalam lubang biawak kamu tetap mengikuti mereka (Yahudi dan Nasrani).” (HR. Bukhari-Muslim).

Barat hanya menginginkan khususnya generasi muda muslim, agar berpenampilan Barat tetapi kosong dari produktivitas, daya inovasi dan kemajuan sains dan teknologi seperti halnya Barat. Dengan begitu mereka hanya akan menjadi pengekor Barat.  Akhirnya, penjajahan oleh Barat pun tidak akan dipermasalahkan karena telah dijadikan panutan. Dengan mengadopsi gaya hidup Barat, masyarakat negeri ini pun akan menjadi pasar besar bagi produk-produk Barat.

Konspirasi itu bukan hanya isapan jempol belaka. Namun benar-benar nyata adanya. Secara i’tiqadi, Alquran telah menginformasikan bahwa orang-orang kafir secara keseluruhan akan terus memerangi umat Islam, baik secara fisik maupun pemikiran, agar umat Islam keluar dari Islam (QS. Al Baqarah: 217).

Secara faktual, konspirasi liberalisasi budaya itu bisa dirasakan. Konspirasi dijalankan pada tingkat falsafah dan pemikiran, dengan menanamkan paham sekularisme, liberalisme dan hedonisme. Sejatinya budaya bebas itu berpangkal dari ketiga paham tersebut. 

Liberalisasi budaya dikemas dalam berbagai program secara internasional yang dikawal oleh PBB dan lembaga-lembaga internasional. PBB mengeluarkan berbagai konvensi dan kesepakatan internasional terkait dengan isu HAM, kesetaraan gender, dll. Kemudian negara-negara Dunia Ketiga (negeri-negeri muslim) diharuskan meratifikasi semua itu. 

Lahirlah berbagai UU yang melegalkan kebebasan. Ada program kampanye dan pendidikan kesehatan reproduksi remaja (KRR) yang sejatinya mengkampanyekan seks bebas asal ama, kondomisasi, serta mengemas sebuah momen kematian pendeta dengan sebutan Valentine’s Day yang mampu menggiring opini masyarakat dan meyakininya sebagai hari kasih sayang.

Di era ghazwul fikri ini, propaganda V-Day merupakan liberalisasi budaya yang berbahaya bagi umat Islam khususnya generasi mudanya. Bahaya tersebut adalah:

Pertama. Mendangkalkan akidah Islam. Didalami dari sisi sejarah V-Day, lekat dengan budaya paganisme yang syirik.

Kedua. Meracuni benak umat Islam dengan ide kebebasan bertingkah laku (bergaul). Berdalih HAM, orang bebas melakukan apapun yang disukai asal tidak mengganggu hak orang lain.
 
Ketiga. Terjauhkan dari makna cinta hakiki dalam pandangan syara’. Dimana cinta sejati hanyalah kepada Dia, Robb Semesta Alam.

Keempat. Meningkatkan angka pergaulan bebas.

Kelima. Muncul efek domino dari pergaulan bebas  antara lain: seks pra nikah, kehamilan tidak dikehendaki, pernikahan dini tanpa visi, aborsi, HIV/AIDS merebak, kejahatan seksual, dst.

Keenam. Mengikis jati diri atau kepribadian Islam. Di sisi lain, justru bangga dengan mengikuti kepribadian Barat.

Sedemikian bahayanya perayaan V-Day bagi keimanan dan ketakwaan generasi, hendaknya menjadikan perhatian berbagai pihak baik orang tua, guru, tokoh masyarakat maupun pejabat, untuk melakukan edukasi dan menolak perayaan propaganda sesat ini.


Strategi Menghadang Virus V-Day di Tengah Arus Ghazwul Fikri
------------------------------------

Terlepasnya generasi muslim dari V-Day dan propaganda kufur lainnya hanya akan terjadi berawal dari berubahnya pemikiran/cara pandang mereka terhadap hakikat kehidupan. Bahwa hidup bukan sekadar memenuhi kebutuhan dan keinginan. Tetapi saat memenuhinya harus bersandar pada aspek ruh, keterikatan dengan aturan Allah. 

Idealnya, terjadi peningkatan taraf berpikir yang merupakan proses perpindahan aspek hewaniyah menuju insaniyah. Misal saat tumbuh rasa ketertarikan pada lawan jenis atau muncul benih cinta, jika ia berpikir memenuhinya dengan berpacaran (bahkan seks bebas), maka ini wujud pemikiran rendah karena semata memenuhi naluriahnya.

Adapun berpikir bagaimana mengelola rasa cintanya dengan halal berdasar tuntunan Allah dan Rasul-Nya yang tergambar dalam Alquran dan Assunnah merupakan bentuk pemikiran lebih tinggi. 

Perubahan pemikiran dari cinta semu yang hanya mengedepankan nafsu ke cinta sejati berdasar aturan ilahi inilah kunci generasi muslim terbebas dari virus merah jambu ala V-Day.
 
Adapun strategi untuk menghadang virus V-Day sekaligus menyelamatkan generasi muda muslim ialah: 

Pertama. Memurnikan pemikiran Islam khususnya di kalangan generasi muda, dengan cara memperkuat akidah (keimanan) dan keterikatan pada hukum syariat. Sebab orang beriman tak akan berani menyalahi syariat Allah Swt. Juga menjadi landasan memilah dan memilih aktivitas yang bermashlahat dan sesuai syariat. 

Kedua. Melakukan edukasi terhadap generasi muslim tentang aturan pergaulan Islam. Diharapkan mereka faham batasan berinteraksi dan terbimbing menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Saat V-Day datang, remaja tak akan lagi merayakannya karena telah memahami aturan Islam.
 
Ketiga. Mendorong umat Islam untuk mencabut ideologi dan sistem sekular yang telah menumbuhkan budaya liberal dan nyata-nyata menimbulkan banyak persoalan kemanusiaan dan kerusakan atas umat manusia.

Keempat. Memotivasi khususnya remaja gemar mengkaji Islam sebagai bekal menghadapi berbagai tantangan akhir zaman.

Kelima. Menumbuhkan rasa kebanggaan menjadi muslim dan tidak enggan menampakkan identitas kemuslimannya. Berikut bangga terhadap kesempurnaan dan kelengkapan syariat Islam dalam mengatur kehidupannya. 

Keenam. Menyadarkan kepada umat bahwa saat ini tinggal di era ghazwul fikri (perang pemikiran). Sehingga tidak mudah terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran yang berasal dari luar Islam meskipun secara logika mudah diterima akal dan memberikan manfaat praktis.

Upaya individual atau kelompok Islam dalam mengedukasi dan melindungi umat dari virus V-Day maupun ide kufur lainnya akan optimal, tentu jika peran negara benar-benar berfungsi. Karena merebaknya pemikiran sekular liberal saat ini tidak terlepas dari abainya negara menjamin kemurnian berpikir kaum muslimin sebagai mayoritas rakyat yang tinggal di negeri ini. 

Di sinilah pentingnya negara menerapkan syariat Islam agar umat tak lagi teracuni dengan pemikiran asing yang sesat dan menyesatkan. Semoga harapan ini akan terwujud dengan hadirnya perisai hakiki umat, yaitu khilafah islamiyah yang mudah-mudahan tak lama lagi hadir di tengah-tengah kita.[]

Oleh: Puspita Satyawati
(Analis Politik dan Media, 
Dosen Online di Uniol 4.0 Diponorogo)

Posting Komentar

0 Komentar