Memahami Sunnah Nabi Saw Agar Tak Gagal Paham Lagi


Seorang profesor sekaliber Mahfud MD kembali melakukan sebuah kekeliruan fatal setelah pernyataan  kontroversial “Islam garis keras” saat gonjang-ganjing politik pasca pemilu pada Mei 2019 lalu. Kini, Mentri Menkopolhukam tersebut kembali membuat pernyataan yang mengindikasikan kegagalan dalam memahami sunnah Nabi Saw. Dia menyatakan bahwa haram hukumnya mengikuti sistem pemerintahan Nabi Muhammad Saw, . saat menjadi pembicara dalam  sebuah Diskusi Panel Harapan Baru Dunia Islam di Kantor PBNU Kramat Raya, Jakarta pada 25 Januari 2020


Sunnah Nabi Saw Berasal Dari Wahyu 

Rasul saw. tidak melakukan perbuatan kecuali mengikuti apa yang diwahyukan kepada beliau. Hal itu ditegaskan di dalam al-Quran. Allah SWT berfirman:
﴿قُلْ إِنَّمَا أَتَّبِعُ مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ مِن رَّبِّي﴾
Katakanlah, “Sungguh aku hanya mengikut apa yang diwahyukan dari Tuhanku kepada diriku.” (QS al-A’raf [7]: 203).
Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepada diriku (QS al-An’am [6]: 50; Yunus [10]: 15).
﴿إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ﴾
Dengan demikian, perbuatan Rasul saw. merupakan bagian dari wahyu yang diekspresikan atau diungkapkan melalui perbuatan beliau. Jadi perbuatan (af’âl) Rasul saw. merupakan bagian dari as-Sunnah, artinya merupakan dalil syariah.


Mengikuti as-Sunnah, termasuk perbuatan beliau, adalah wajib. Mengikuti (ittibâ’) atau meneladani (at-ta’assi) perbuatan Rasul saw. itu harus persis seperti perbuatan beliau (bi mitsli fi’lihi), sesuai niat dan maksud perbuatan beliau (‘alâ wajhihi) dan dilakukan karena perbuatan beliau (li ajli fi’lihi). Namun, kewajiban mengikuti dan meneladani perbuatan Rasul saw. itu bukan berarti wajib melakukan apapun yang beliau lakukan, tetapi maknanya adalah wajib ittiba’ sesuai dengan perbuatan beliau.


Khilafah, Sunnah Nabi Yang Wajib Diikuti

Khilafah telah banyak dijelaskan dalam as sunnah dan Rasulullah sendiri telah mencontohkan bahwa sistem pemerintahan yang shahih adalah yang menjadikan Al Qur’an dan As sunnah sebagai sumber hukum Undang-undang Dasar dan Undang-undang negara. Setelah Nabi saw. hijrah ke Madinah, Nabi saw. telah membentuk struktur pemerintahannya . Lengkap, mulai dari kepala negara, Nabi Muhammad saw. sendiri. Kemudian ada pembantu Nabi yang membantu baginda saw. dalam mengurus pemerintahan. Mereka adalah Abu Bakar dan ‘Umar bin al-Khatthab, sebagaimana sabda Nabi, “Dua pembantuku dari kalangan penduduk bumi adalah Abu Bakar dan ‘Umar.” [Hr. al-Hakim]

Karena itu, sejak baginda saw. datang ke Madinah, baginda langsung memimpin kaum Muslim, melayani kepentingan mereka, mengurus urusan mereka, membentuk masyarakat Islam, dan mengadakan perjanjian dengan orang Yahudi. Baru kemudian dengan Bani Dhamrah, Bani Mudlij, lalu dengan orang kafir Quraisy, penduduk Ailah, Jarba’ dan Adzrah. Baginda saw. melakukan perjanjian agar jangan sampai ada orang yang menghalang-hala ngi orang yang akan menunaikan ibadah haji. Juga agar tidak ada seorang pun yang terancam pada Syahrul Haram (bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab).

Baginda saw. juga pernah mengirim Hamzah bin Abd al-Muthallib, Muhammad bin ‘Ubaidah bin al-Harits, serta Sa’ad Bin Abi Waqas dalam sebuah detasmen untuk menyerang penduduk Dumatul Jandal. Dalam beberapa pertempuran, kadang baginda saw. sendiri yang memimpin langsung pasukannya. Bahkan baginda saw. juga terjun langsung dengan pasukannya dalam sebuah pertempuran yang dahsyat.

Baginda saw. juga pernah mengangkat para wali (kepala daerah tingkat I) untuk daerah-daerah tertentu, serta para ‘amil (kepala daerah tingkat II) untuk beberapa negeri. Baginda saw. pernah menunjuk ‘Utab bin Usaid sebagai wali di Makkah setelah kota ini ditaklukkan. Kemudian setelah Badzan bin Sasan memeluk Islam, dia diminta menjadi wali di Yaman. Baginda saw. juga pernah mengangkat Mu’ad Bin Jabal al-Khazraji menjadi wali di Janad. Khalid bin al-Walid menjadi amil di Shun’a’. Ziyad bin Lubaid bin Tsa’labah al-Anshari menjadi wali di Hadramaut. Abu Musa al-Asy’ari menjadi wali di Zabid dan ‘Adn. Amru bin al-Ash di Oman. Abu Dujanah menjadi ‘amil di Madinah.

Ketika baginda saw. menunjuk para wali tersebut, baginda senantiasa memilih di antara mereka orang yang paling sempurna dalam melaksanakan tugasnya, untuk menjadi wali atau ‘amil baginda. Baginda juga senantiasa menanamkan iman dalam benak mereka yang akan diterjunkan ke daerah yang telah baginda tentukan. Baginda saw. juga selalu menanyai mereka tentang cara yang akan mereka gunakan dalam menentukan keputusan mereka. Diriwayatkan dari baginda saw, bahwa baginda pernah bertanya kepada Mu’adz bin Jabal al-Khazraji, ketika baginda mengutusnya ke Yaman:
“Dengan apa kamu akan memutuskan (suatu perkara)?, (Mu’adz) menjawab, “Dengan kitab Allah”. Baginda bertanya, “Jika kamu tidak menemukan?”, (Mu’adz) menjawab, “Dengan sunah Rasul-Nya”. Baginda bertanya lagi, “Jika kamu tidak menemukannya?” (Mu’adz) menjawab, “Saya akan berijtihad dengan pendapatku”. Baginda lalu bersabda, “Segala puji hanya milik Allah, yang telah memberikan taufik kepada utusan Rasulullah dengan sesuatu yang amat dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.”

Selain dalil as sunnah di atas, Rasulullah Saw juga telah mewasiatkan sistem pemerintahan Islam setelah wafatnya beliau yakni Khilafah. Beliau bersabda : 
كانت بنو إسرائيل تسوسهم الأنبياء كلما هلك نبي خلفه نبي وإنه لا نبي بعدي وستكون خلفاء فتكثر
“Dahulu Bani Israil diatur hidupnya oleh para nabi, setiap seorang nabi meninggal, dia digantikan oleh nabi lainnya, dan sesungguhnya tidak ada nabi setelahku. Dan akan ada para khalifah dan jumlah mereka akan banyak.” (HR Muslim, no 1842).

Rasulullah juga mengabarkan bahwa kekhilafahan Islam seperti pada masa Khulafaur Rasyidin akan kembali tegak sekali lagi. Salah satunya adalah hadis yang menggambarkan bentuk dan tahapan kekuasaan yang akan terjadi sepeninggal beliau sampai hari kiamat secara urut. Beliau bersabda:
تَكُوْنُ النُّبُوَّةُ فِيْكُمْ مَا شَاءَ ا للهُ أَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ خِلآفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ، فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ اَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًا عَاضًا ، فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًا جَبَّرِيًّا ، فَتَكُوْنَ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ خِلآفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ، ثُمَّ سَكَتَ
“Periode kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya. Setelah itu datang periode khilafah aala minhaj nubuwwah (kekhilafahan sesuai manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah ta’ala mengangkatnya. Kemudian datang periode mulkan aadhdhan (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa. Selanjutnya datang periode mulkan jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’ala. Setelah itu akan terulang kembali periode khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw diam.” (HR Ahmad; Shahih).

Inilah as sunnah tentang kewajiban Khilafah dan sekaligus bisyarah yang Rasulullah kabarkan kepada umat beliau. Maka, sebuah pernyataan yang tertolak oleh as sunnah jika mengikuti sistem pemrintahan Nabi Saw adalah haram hukumnya. Bahkan Allah SWT juga telah memeringatkan siapa saja yang menentang (tidak mengikuti) Nabi setelah jelas kebenaran baginya. Allah SWT berfirman :

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. [TQS. An Nisaa’: 115]. Allaahua’lam bishshawab.[]

Oleh : Yulida Hasanah
(Aktivis Muslimah Jember)

Posting Komentar

0 Komentar