Kita Muslim, Kenapa Pilih 'millah' Lain (Demokrasi)?


Sebagai seorang Muslim, adalah sebuah keharusan berpegang teguh pada tuntunan Islam. Sebagaimana yang ada dalam firman Allah azzawajalla sebagai berikut,

Allah SWT berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ کَاۤ فَّةً ۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ ۗ اِنَّهٗ لَـکُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
"Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 208)

Tapi ternyata gempuran budaya barat tak henti-hentinya menerpa umat Islam. Hingga umat Islam sedikit demi sedikit terjebak dalam dalam jebakan yang dibuat oleh barat kafir penjajah.

Hal tersebut mengingatkan kita pada sebuah hadist Nabi Saw yaitu, 

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ  . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ  وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ

“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“ (HR. Bukhari no. 7319)

Parahnya lagi, umat Islam tak hanya terjebak pada pemikiran-pemikiran yang barat ciptakan. Tapi umat Islam diajak untuk mengamini bahkan menerapkan ajaran dan sistem buatan barat yaitu demokrasi.

Tentunya dalil tentang demokrasi tidak akan ditemukan dalam literatur Islam, berbeda dengan musyawarah yang ada dalam Islam.

Demokrasi adalah mufakat berdasarkan suara terbanyak. Begitulah jargonnya, tapi pada faktanya mufakat berdasarkan para pemilik kepentingan. Berbeda dengan mufakat dalam Islam, mufakat dalam Islam adalah mufakat berdasarkan Quran dan Sunnah, bukan suara terbanyak atau pun suara para pemilik modal. Oleh sebab itu, jangan menyamakan definisi mufakat dalam Islam dengan yang ada pada demokrasi. Karena memang sudah berseberangan.

Beberapa realita yang  menambah pilu bahwa demokrasi bukan pilihan yang terbaik, yaitu;

Pertama. Sekalipun rakyat menolak atas sebuah kebijakan yang dirasa menyengsarakan rakyat, tapi atas nama keputusan bersama, kebijakan tersebut tetap disahkan. Untuk siapa disahkan kalau bukan untuk memenuhi syahwat para pemilik kepentingan dan para pemilik modal?

Contohnya saja, seperti kenaikan iuran BBM, BPJS, pengesahan UU KPK, dan lain-lain. Semua akan diketok palu walaupun rakyat menolak. Bahkan rakyat sudah demo berjilit-jilit pun, suara mereka tidak digubris oleh pemilik kebijakan.

Kedua, praktik gratifikasi hingga korupsi yang kian menjamur dalam lingkaran demokrasi. Jargon pro rakyat senantiasa menghiasi dalam mulut manis demokrasi. Tapi, kasus-kasus korupsi laten hingga gratifikasi terus mewarnai alur jalannya sistem demokrasi. Makin hari makin menjadi, makin hari makin brutal saja kasus korupsi yang terkuak. Jelas rakyat lagi yang kembali dirugikan atas semua ini.

Ketiga, demokrasi senantiasa mengumandangkan kebebasan berpendapat. Tapi lucunya kenapa rakyat kritik kritis malah mendapatkan tudingan menebar kebencian hingga dituduh radikal jika rakyat menawarkan solusi Islam kaffah atas permasalahan yang dihadapi negeri ini. Lalu kebebasan berpendapat yang bagaimana yang dimaksud demokrasi?

Masih banyak lagi deretan luka yang telah diciptakan demokrasi. Seharusnya hal tersebut membuat umat sadar, bahwa demokrasi bukan habitat yang baik buat umat Islam. Demokrasi tidak akan pernah sejalan dengan nilai-nilai Islam. Oleh sebab itu, memang tidak ada jalan lain kecuali hijrah totalitas menuju Islam kaffah, dengan menerapkan syariat Islam secara sempurna. 

Insya Allah dengan itu semua keberkahan akan turun dan rahmat akan bisa dirasakan di seluruh alam. Wallahu'alam bishowab.[]

Oleh Nusaibah Malika

Posting Komentar

0 Komentar