Ketika Istilah Kufur Nikmat Salah Tempat dan Pertumbuhan Ekonomi Melambat Karena Jauh Dari Syariat


Statemen kita atas sesuatu hal yang sama sekali tidak kita ketahui, hanya akan mencerminkan kebodohan kita dalam sesuatu hal itu. 

Contohnya. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi tercatat 5,02% sepanjang 2019, lebih rendah dibandingkan 2018 sebesar 5,17%. (detikFinance, 09/02/2020)

Menyikapi kondisi di atas, kemudian seseorang berstatemen bahwa termasuk kufur nikmat apabila kita mengkritisi pertumbuhan ekonomi 5,02%. Menurutnya kondisi ini justru harus disyukuri, dengan alasan capaian Indonesia masih lebih baik dibanding negara-negara lainnya. (detikcom, 9/2/2020)

Tentu bukan sesuatu yang lucu, karena kalau kita cermati perkara inti di dalam kondisi seperti ini bukanlah antara kufur nikmat dan syukur. 

Sebagaimana yang dikatakan Direktur Eksekutif Riset Core Indonesia, Piter Abdullah, persoalaannya bukan masalah kufur nikmat atau tidak, melainkan ancaman yang bisa ditimbulkan jika ekonomi mengalami stagnanasi. Sama artinya lapangan kerja yang tercipta tidak cukup untuk menyerap angkatan kerja yang bertambah 3 juta jiwa setiap tahun. (detikFinance, 09/02/2020) 

Diyakini Pitter bahwa penyebab rendahnya pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah terjadinya penurunan daya beli dan investasi. Sebagaimana catatan BPS, konsumsi rumah tangga di triwulan IV-2019 hanya tumbuh 4,97%. Padahal triwulan IV tahun lalu tumbuh 5,06%.(detikFinance, 09/02/2020)

Sementara menurut seorang Politikus Partai Gerindra Bambang Haryo Soekartono, penyebab terbesarnya adalah masalah di dalam negeri. 

Seperti inkonsistensi regulasi, upah minimum yang berbeda-beda di setiap daerah, fluktuasi bahan pokok dan energi, pungutan liar, korupsi, serta kerusakan infrastruktur.

Senyatanya pula Indonesia memiliki sumber daya melimpah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Selain itu posisi strategis Indonesia di poros maritim dunia belum dimanfaatkan maksimal. Oleh karena itu, akan sangat keterlaluan kalau pemerintah tidak mampu mengatasi masalah domestik ini.(VIVAnews, 10/02/2020)

Apa sih yang sebenarnya terjadi di negeri ini ?

Apabila kita mencoba mencermati satu per satu, maka akan kita dapati begini.

Pertama, penggunaan ungkapan kufur nikmat  adalah salah tempat. 

Kenapa ? Karena kufur nikmat adalah terminology islam. Dan pemaknaannya harus dikembalikan kepada bagaimana Islam mendefinisikannya. 

Kufur nikmat yaitu tidak mensyukuri rezeki yang Allah berikan, bisa terjadi baik secara lisan, hati maupun perbuatan. Dan kufur merupakan kebalikan dari iman, maka kufur terkategori perbuatan maksiat. Tidaklah suatu perbuatan maksiat akan melahirkan perbuatan lain, kecuali perbuatan maksiat lainnya.

Selain itu perbuatan maksiat yang terus menerus dilakukan dapat mendatangkan murka Allah SWT. Allah SWT berfirman:

وَضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَا نَتْ اٰمِنَةً مُّطْمَئِنَّةً يَّأْتِيْهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِّنْ كُلِّ مَكَا نٍ فَكَفَرَتْ بِاَ نْعُمِ اللّٰهِ فَاَ ذَا قَهَا اللّٰهُ لِبَا سَ الْجُـوْعِ وَا لْخَـوْفِ بِمَا كَا نُوْا يَصْنَعُوْنَ

"Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezeki datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang mereka perbuat." (QS. An-Nahl 16: Ayat 112)

Bentuk pengingkaran nikmat di sini bukan sebatas tidak memgucapkan lafadz syukur akan tetapi kekufuran dengan menolak syariat yang dibawa oleh Rasul-rasul Allah. Di ayat selanjutnya Allah SWT berfirman:

وَلَـقَدْ جَآءَهُمْ رَسُوْلٌ مِّنْهُمْ فَكَذَّبُوْهُ فَاَ خَذَهُمُ الْعَذَا بُ وَهُمْ ظٰلِمُوْنَ

"Dan sungguh, telah datang kepada mereka seorang rasul dari (kalangan) mereka sendiri, tetapi mereka mendustakannya, karena itu mereka ditimpa azab dan mereka adalah orang yang zalim." (QS. An-Nahl [16] : 113)


Sementara penggunaan istilah kufur nikmat di sini lebih kepada pembajakan istilah hanya untuk meredam gejolak public terhadap kegagalan pembangunan ekonomi oleh rezim.

Kedua, adanya fakta kemandegan ekonomi sehaharusnya menuntun kita kepada kesadaran bahwa ada kesalahan sistemik pemberlakuan kapitalisme yang lahir dari rahim ideologi sekuler. Inilah kesalahan pokoknya. 

Sementara itu kerusakan yang ditimbulkan berupa kesempitan hidup yang dialami mayoritas penduduk negeri ini, hanyalah salah satu yang kita saksikan. Semua ini sebagai akibat dari penerapan setiap kebijakan yang kapitalistik materialistik.

Dalam hal ini Allah mengingatkan kita dalam sebuah firman-Nya. Allah SWT berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَا دُ فِى الْبَرِّ وَا لْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّا سِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. Ar-Rum [30] : 41)

Ketiga, tentang stagnansi ekonomi yang terjadi, pada dasarnya tidak akan pernah terjadi andai saja Indonesia mau melakukan perubahan kebijakan.

Terkait perubahan mendasar, Allah SWT berfirman:

 اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَ نْفُسِهِمْ ۗ 

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd [13] : 11)

Diawali dari perubahan aqidah yang melandasi sistem yang lahir di dalamnya. Yaitu mengganti aqidah sekuler menjadi aqidah Islam. Dengan demikian akan terpancar berbagai aturan juga kebijakan yang konsisten.

Di situlah Islam memberi solusi dengan system ekonomi islam yang dijalankan oleh pemerintah yang meriayah umat
Allah SWT berfirman:

لَّهٗ مَقَا لِيْدُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۗ وَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِاٰ يٰتِ اللّٰهِ اُولٰٓئِكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ
"Milik-Nyalah kunci-kunci (perbendaharaan) langit dan bumi. Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, mereka itulah orang yang rugi." (QS. Az-Zumar 39: Ayat 63)

Mari segera bertaubat sebelum kita semakin melarat dan jauh dari rahmat, akibat enggan terikat dengan hukum-hukum syariat. Jauh apalagi menolak syariat hanya akan membuat hidup kita semakin sulit dan penghidupan yang sempit. Dalam hal ini Allah SWT berfirman:

وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِ نَّ لَـهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى

"Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta." (QS. Ta-Ha 20: Ayat 124)

WaLlâhu'alam bishshâwab. []

Oleh : Yanti Ummu Yahya (Penulis Buku Motivasi Islami Ideologis)

Posting Komentar

0 Komentar