TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Ketika Hukum kebingungan di Hadapan Seorang Transgender


Polres Metro Jakarta Barat belum menentukan penempatan lokasi penjara selebritis Lucinta Luna yang ditangkap terkait kepemilikan tiga butir pil diduga ekstasi saat penangkapan di Apartemen Thamrin City Jakartta. Kepala Urusan Bagian Humas Polres Metro Jakarta Barat AKP Bachrun mengatakan bahwa kalau terkait penempatan sel pria atau wanita, masih belum ada proses penahanan, masih dalam penyelidikan. Sementara itu, Kanit II Satres Narkoba Polres Metro Jakarta Barat Ajun Komisaris Polisi Maulana Mukarom mengatakan penentuan status Lucinta Luna akan menunggu konferensi pers besok. Hal tersebut menjadi perhatian warganet lantaran pemilik nama asli Muhammad Fattah tersebut diketahui pernah melakukan operasi ganti kelamin dari pria ke wanita. 

Sebelumnya, Lucinta Luna mengajukan permohonan perubahan nama dan identitas gender di KTP di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, pada 20 Oktober 2016 lalu. Lucinta Luna mengajukan permohonan ganti nama dari Muhammad Fatah menjadi Ayluna Putri, dan ganti identitas kelamin di KTP dari laki-laki ke perempuan, ke pihak Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Lantaran Lucinta Luna cabut permohonan ganti nama dan identitas gender di KTP pada 4 Januari 2017, sampai saat ini nama Lucinta Luna di KTP tetap Muhammad Fatah, dan jenis kelamin Lucinta Luna di KTP tetap laki-laki. Selasa siang, pihak kepolisian menyita tiga butir pil yang diduga pil ekstasi saat penangkapan Lucinta Luna di Apartemen Thamrin City. Lucinta diamankan bersama tiga orang lainnya. Dua orang diketahui sebagai staf Lucinta, H dan N dan satu orang lainnya adalah seorang perempuan berinisial D. Setelah diperiksa, hasil tes urine Lucinta Luna menunjukkan jika yang bersangkutan positif mengonsumsi psikotropika Benzo. (Selasa 11/02/2020)

Cetar! Berita yang menghebohkan jagad media social. Seorang artis dangdut yang sedang naik daun karirnya kini tersandung kasus narkoba jenis psikoropika Benzo, dan dinyatakan positif oleh kepolisian. Namun sebenarnya, yang menjadi sorotan warga net dan sekarang jadi perbincangan dimana- mana, bukanlah soal penagkapan kasus narkobanya. Tetapi lebih kepada kasus identitas pribadi LL yang kini terungkap ke public. Awalnya tidak banyak yang diketahui tentang sosok artis pendatang baru ini, namun dengan kasus ini, tentunya banyak pihak yang akan mendapatkan keuntungan berita. Apalagi soal privasi artis. Namun bukan itu focus yang seharusnya dibahasa , tetapi lebih kepada pendakwaan hukum kepada pelaku. Namun kasus LL ini memang sangat unik dan seperti menampar hukum yang tidak tegas terhadap pelaku kejahatan di negeri ini. berikut poin-poin yang seharusnya diperhatikan dalam kasus LL.

Pertama, kasus narkoba dikalangan dan lingkungan artis bukanlah hal yang mengagetkan. LL hanyalah terdakwa dan pengguna kesekian dari artis-artis sebelumnya. Sudah banyak daftar nama-nama sederetan artis yang memenuhi catatan kepolisian jika soal Narkoba. Mulai dari artis papan atas hingga pendatang baru yang lagi naik daun. Seperti terlihat bahwa narkoba menjadi ajang pelarian stress dan depresi berat atas tekanan kerja yang dialami oleh para artis. Tidak salah jika memang mereka butuh penyegaran pikiran ditengah-tengah tumpukan naskah dan scenario syuting yang harus dihapal. Belum lagi waktu pelaksaan syuting dan pemotretan terjadi siang, sore, malam, subuh, dsb. Lihat saja acara ajang pencarian bakat di televisi yang baru berhenti in the midnight, dan itu acara live. Belum lagi tingkah yang hancur-hancuran di hadapan kamera. Bagaimana mengikis malu sampai kandas jika tidak dibantu dengan alat – alat yang menghilangkan kesadaran? Dan jika setiap malam seperti itu, kapan mereka akan istirahat? Kenapa bisa tetap segar-segar saja?

Kedua, kasus narkoba memang ibarat lingkaran setan yang sulit dipecahkan teka-tekinya. Darimana asalnya dan sejak kapan menjamur di Indonesia? Apakah hanya para artis saja yang mengkonsumsi? Sudahkah BNN dan kepolisian mendata dengan cermat Bandar-bandar, kantong-kantong, dan pengedar narkoba? Zaman kapitalis sekarang, narkoba adalah jadi lahan bisnis yang sangat menguntungkan dan bisa membuat cepat kaya masyarakat. Mulai dari pengedarnya, artis, pengusaha, pengajar, pelajar, hingga ibu rumah tangga. Dengan berbagai cara, kesempatan dan peluang yang ada, narkoba bisa disebarkan lewat apapun. Baik melalui makanan, boneka, pakaian, obat-obatan, dan bahkan pensil dan pulpen juga lem. Negara kelihatannya hampir putus asa menyelesaikan kasus narkoba ini. Sebab semakin hari semakin terus berkembang. Meskipun banyak yang tertangkap tetapi tentu tidak sebanyak yang lolos.

Ketiga, LL hanya dirundung sial saja. Jenis narkoba yang ia pakai masuk daftar yang terlarang di Negara ini. sebab jenis narkoba sangat banyak bukan? Dan yang tidak masuk jenis terdaftar pun ada.  Ingat kasus RA beberapa tahun lalu? Pernah tertangkap pesta sabu dengan asrtis lain. Namun ia berada pada posisi lucky saat itu. Sebab jenis narkoba yang ia pakai tidak terdaftar di catatan yang dilarang di Negara ini. Artinya terdapat tanda tanya yang besar, sebenarnya jenis-jenis apa sajakah yang terdaftar masuk narkoba yang dilarang? Dan bagaimana masyarakat tahu jika tidak ada edukasi? Sebab ironisnya, giliran yang memakai tertangkap, kena pasal. Tetapi giliran Bandar besar, pernah diberikan grasi oleh Presiden. Apalagi jika Bandar sudah berasal dari luar negeri, deal-deal antar Negara agar dilakukan agar pelaku dirngankan hukumannya bila perlu dibebaskan. Sinting bukan? Yang dihukum mayoritas pemakai dan bahkan korban, tetapi pengedar bisa bebas karena punya power. Rasanya hanya mimpi saja agar kasus narkoba tuntas dan selesai hingga ke akarnya?

Keempat, kini hukum terlihat sangat bingung dihadapan terdakwa narkoba yang berjenis kelamin tak terdeteksi alias transgender. Bingung menempatkan penjaranya di sel pria atau wanita. Baru buat sel aja bingung, gimana kalau jadi mayat? Dishalatkan pakai “ha” atau ‘hu’? atau gelarnya almarhum atau almarhumah? Kenapa hukum bisa dibuat tidak berdaya? Sebab di Negara ini tidak ada hukum yang melarang transgender (LGBT). LL melakukan operasi kelamin dan mengajukan penggantian jenis kelamin untuk KTP-nya meskipun telah ia cabut. Intinya, boleh bukan? Padahal transgender adalah perbuatan yang sangat kotor dan dilaknat oleh Allah. dan pastinya perbuatan yang dilaknat akan mendatangkan keruskan (fasad). Dan fasad mengundang azdab yang pedih. 
Hukum demokrasi dari warisan imprealisme Barat yang mendewakan kebebasan kini terbukti lemah. Dan tidak berdaya dihadapan seorang transgender. Hukum yang ada hanya memberatkannya dalam kasus narkoba saja. sementara criminal terberat yang ia lakukan adalah transgender. Dengan menjungjung kebebasan berperilaku ternyata hukum buatan manusia tidak mampu memberikan sanski jera bagi pelaku. 

Bagian tubuh dianggap privasi yang hanya pemiliknya saja yang berhak mengaturnya. Apakah ia mau tetap pada kodrat penciptaan gendernya atau melakukan transgender, itu bukan urusan negera. Lalu bagaimana kalau ia mati dalam keadaan transgender? Siapa yanag akan mensholatkan? Bukankah akhirnya ia mengundang kerusakan bagi lingkungan? 
Seharusnya Negara tegas dalam melihat kasus LL. Dua kasus berat yang menimpanya tidak bisa diabaikan salah satunya. Menghukumnya karena narkoba dan juga melakukan operasi kelamin. Tetapi bagaimana mungkin operasi kelamin dianggap kejahatan dihadapan hukum demokrasi?
 
Solusi tuntas narkoba dan transgender hanya akan diraih jika yang dijadikan hukum adalah syariat Islam. Islam akan memberikan efek jera bagi pelaku dan juga melakukan tindakan preventif ke tengah-tengah masyarakat. Narkoba yang kategori jenis najis dan haram akan dilarang peredarannya dan akan ditindak tegas pelakunya. Bisa dipenjara, dicambuk bahkan hukuman mati. Sehingga tidak ada pengedar yang berani lewat di Negara ini. 

Begitu juga dengan perilaku menyimpang seksual seperti transgender. Mengubah ciptaan Allah terkait fisik yang normal adalah bentuk kekufuran yang nyata dan dosa besar. Setiap dosa dalam Islam dianggap criminal dan akan dihukum dengan tegas. Apalagi hukman perilaku sex menyimpang tidak ada pembiaran dan dukungan. Karena dalam Islam, Negara wajib melindungi aqidah dan perilaku rakyatnya dari fasad yang bisa mengundang azab.
 
Sungguh, tidaklah heran jika banyak masalah yang menimpa negeri ini. dan hukum yang ada juga tidak mampu menyelesaikannya. Sebab hukum berpihak pada yang berkuasa dan juga buatan mereka sendiri. Masalah narkoba, transgender dan lainnya yang merundung negeri ini hanya akan selesai jika penguasa dan rakyat Indonesia menerapkan syariat Islam.[]

Oleh Nahdoh Fikriyah

Posting Komentar

0 Komentar