Kesejahteraan Dalam Islam vs Demokrasi


Kesejahteraan adalah keadaan yang baik, kondisinya makmur, dalam keadaan sehat dan damai. Sedangkan kebahagiaan adalah suatu keadaan pikiran atau perasaan yang ditandai dengan kecukupan hingga kesenangan, cinta, kepuasan, kenikmatan, atau kegembiraan yang intens.

Dalam perspektif demokrasi kesejahteraan dan kebahagiaan berkaitan dengan kebebasan dan terpenuhinya materi. Berbeda dengan tinjauan Syariah, kesejahteraan dan kebahagiaan bukan sekedar materi, namun juga mencakup spiritual, yaitu kesejahteraan di dunia dan kebahagiaan di akhirat.

Setiap muslim pasti menginginkan kehidupan yang sejahtera dan bahagia. Kebahagiaan seorang muslim adalah keadaan ketika setiap perbuatan yang dia lakukan mendapatkan ridho dari Allah SWT.
 
Untuk mengatasi berbagai problem diatas perlu dijelaskan sebagai berikut :

Konsep Kesejahteraan dan Kebahagiaan dalam Perspektif Syariah vs Demokrasi

Kesejahteraan dan kebahagiaan dalam perspektif Syariah berbeda dengan  demokrasi. Dalam Islam mengajarkan bahwa hidup yang sesungguhnya adalah kehidupan di akhirat. Kehidupan dunia hanya sementara, ia adalah proses menuju hidup yang sesungguhnya yang lebih baik dan kekal.

Allah SWT berfirman:


وَلَـلْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْاُوْلٰى 

"dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan."
(QS. Ad-Duha 93: Ayat 4)

Dalam ayat lain, 

Allah SWT berfirman:

وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ وَّ اَبْقٰى 

"padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal."
(QS. Al-A'la 87: Ayat 17)

Dengan demikian, kesejahteraan yang diajarkan Islam tidak hanya kesejahteraan materi di dunia tetapi juga kesejahteraan, kemuliaan dan kebahagiaan di akhirat. Islam menyeimbangkan kesejahteraan material dan spiritual, dunia dan akhirat. 

Dalam ajaran Islam materi hanyalah salah satu sarana menuju kesejahteraan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

Sedangkan dalam demokrasi, kebebasan individu adalah puncak untuk mewujudkan kesejahteraan. Kebebasan ini mencakup kebebasan politik, kebebasan berpikir, kebebasan ekonomi, dan kebebasan individu. Bagi kelompok ini, kesejahteraan masyarakat akan tercapai jika kebebasan dan kesejahteraan individu terjamin. Akan tetapi, dalam praktiknya kecenderungan terhadap materi jauh lebih dominan dari pada kecenderungan kepada aspek lain. 

Keunggulan Kesejahteraan dan Kebahagiaan dalam Perspektif Syariah vs Demokrasi

Keunggulan Kesejahteraan dan kebahagiaan dalam perspektif syariah terjadi di masa khulafaur Rasyidin, tepatnya di masa Khalifah Umar bin Khathab, nasib guru pernah mengalami kejayaan. Para penyampai ilmu di kala itu mendapatkan kemuliaan perhatian dari si empunya Negara, yakni khalifah Umar itu sendiri dengan memberikan gaji yang fantastis. Nilainya tak hanya tinggi, namun benar-benar dapat menjamin kesejahteraan mereka sekaligus.

Imam Ad Damsyiqi telah menceritakan sebuah riwayat dari Al Wadliyah bin Atha yang menyatakan bahwa di kota Madinah ada tiga guru yang mengajar anak-anak. 

Khalifah Umar bin Khaththab memberikan gaji pada mereka masing-masing sebesar 15 dinar. Jika dinilai dengan kurs rupiah saat ini, dimana harga emas per 9 Januari 2020 sebesar Rp 694.000,00/gram, maka gaji guru saat itu sudah sebesar Rp. 44.242.500,00. 

Berbeda dengan kesejahteraan dalam demokrasi. Seperti dikutip jppn.com yang mengabarkan bahwa Salah satu guru honorer SDN di lingkungan Pamekasan, Nur Ismi menyampaikan, jeritan hatinya sambil menangis di depan Wakil Bupati Pamekasan dan pejabat lainnya di ruangan Pemkab Pamekasan.

Guru yang sudah 15 tahun mengajar ini mengaku digaji mulai Rp. 50 sampai Rp 350 ribu per bulan masuk setiap hari dari Senin sampai Sabtu. Ia mengaku tidak cukup untuk keperluan setiap hari.

"Saya pernah mengadu ke pihak sekolah agar gaji dinaikkan, tetapi pihak sekolah tidak bisa menaikkan, lantaran Bantuan Operasi Sekolah (BOS) tidak bisa menganggarkan lebih dari itu," tutur Nur Ismi.

Dari penjelasan di atas dapat dilihat bahwa kesejahteraan dalam perspektif Syariah lebih unggul dibandingkan dalam perspektif demokrasi.

Konsekuensi Logis Memilih Kesejahteraan dan Kebahagiaan dalam Perspektif Syariah Dibandingkan dalam Perspektif Demokrasi.

Ada 3 konsekuensi logis jika kita memilih kesejahteraan dan kebahagiaan dalam perspektif Syariah :

1. Tunduk Pada Aturan Allah

Jika kita menginginkan kebahagiaan yang sejati kelak di akhirat, dan menghindari siksa neraka, tentu kita harus mengikuti aturan main yang sudah disiapkan dan diciptakan oleh Allah SWT, sebagai pencipta dan pemilik semesta. 

Manusia tidak bisa menawar ataupun membangkang, karena manusia tidak memiliki saham apa pun terhadap adanya kehidupan di alam semesta ini.

Untuk itu, hal yang pertama jika manusia menginginkan kebahagiaan akhirat adalah dengan tunduk pada aturan Allah. 

Allah SWT berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَّلَا مُؤْمِنَةٍ اِذَا قَضَى اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗۤ اَمْرًا اَنْ يَّكُوْنَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ اَمْرِهِمْ   ۗ  وَمَنْ يَّعْصِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا مُّبِيْنًا

"Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata."
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 36)

2. Menjalankan Misi Hidup Manusia di Bumi

Sebagai makhluk yang diciptakan di bumi, manusia memiliki tujuan dan misinya tersendiri yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT. Menjadi khalifah fil ard, adalah tujuan hidup yang sudah ditetapkan oleh Allah. Untuk itu, membangun bumi, memakmurkan kehidupan manusia, dan memberikan keselamatan juga kesejahteraan tanpa melakukan kerusakan adalah hal yang harus dilakukan oleh manusia.

Untuk bisa mendapatkan ridho dan pahala, tentunya harus dilakukan oleh manusia agar kebahagiaan di dunia dan akhirat dapat diraih.

Allah SWT berfirman:

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰٓئِكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً  ۗ  قَالُوْۤا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَآءَ ۚ  وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَـكَ ۗ  قَالَ اِنِّيْۤ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Aku hendak menjadikan khalifah di bumi. Mereka berkata, Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu? Dia berfirman, Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 30)

Al-Qurthubi dan ulama lainnya menjadikan ayat ini sebagai dalil yang menunjukkan keharusan mengangkat pemimpin untuk memutuskan perkara di tengah-tengah umat manusia, mengakhiri pertikaian mereka, menolong orang-orang teraniaya dari yang menzhalimi, menegakkan hukum, mencegah berbagai perbuatan keji, dan berbagai hal yang penting lainnya yang tidak mungkin ditegakkan kecuali dengan adanya pemimpin, dan “Sesuatu yang menjadikan suatu kewajiban tidak sempurna kecuali dengannya, maka sesuatu itu sendiri merupakan hal wajib pula.”

Al-Qurtubi juga menegaskan, ‘Tidak ada perbedaan pendapat mengenai kewajiban (mengangkat khalifah) tersebut di kalangan umat dan para imam mazhab; kecuali pendapat yang diriwayatkan dari al-‘Asham (yang tuli terhadap syariah.) Dan siapa saja yang berpendapat dengan pendapatnya serta mengikuti pendapat dan mazhabnya.’ 
(Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, 1/264).

3. Berjuang di Jalan Allah

Allah SWT berfirman:

1. فَلْيُقَاتِلْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ الَّذِيْنَ يَشْرُوْنَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا بِالْاٰخِرَةِ   ۗ  وَمَنْ يُّقَاتِلْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ فَيُقْتَلْ اَوْ يَغْلِبْ فَسَوْفَ نُـؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا

"Karena itu, hendaklah orang-orang yang menjual kehidupan dunia untuk (kehidupan) akhirat berperang di jalan Allah. Dan barang siapa berperang di jalan Allah lalu gugur atau memperoleh kemenangan, maka akan Kami berikan pahala yang besar kepadanya."
(QS. An-Nisa' 4: Ayat 74)

Berjuang di jalan Allah artinya adalah menegakkan dan mengamaliahkan seluruh perintah Allah. Adapun makna berperang tidak selalu bermakna perang dalam arti fisik. 

Berperang di jalan Allah dari masa ke masa dan zaman ke zaman tentu mengalami perubahan. Sedangkan, perintah untuk menegakkan dan melawan mereka yang hendak merusak aturan tersebut tetap akan ada sampai kapan pun. 

Untuk itu, Allah menjanjikan pahala dan balasan surga bagi mereka yang berjuang dan berperang di jalan Allah.

Itulah konsekuensi logis jika ingin mendapatkan kesejahteraan dan kebahagiaan dalam perspektif syariah.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pencapaian Kesejahteraan dan Kebahagiaan Syariah dalam Sistem Pemerintahan Demokrasi

Faktor-faktor yang mempengaruhi pencapaian kesejahteraan dan kebahagiaan Syariah ada dua, yaitu :

1. Sistem Islam  yang secara rasional mengantarkan pada kesejahteraan dan kebahagiaan.

2. Pemimpin yang melaksanakan sistem Islam tersebut secara menyeluruh dan konsisten.

Inilah yang telah diterapkan pada masa Daulah Islam pertama dan dilanjutkan oleh masa Kekhilafahan selama hampir 13 abad lamanya. Syariah Islam yang jika diterapkan secara konsisten, akan mengantarkan pada kesejahteraan dan kebahagiaan. Sebagaimana yang telah terjadi pada masa Khalifah Umar bin Abdul Azis. Rakyat hidup sangat sejahtera. Kuncinya satu yakni selalu konsisten dengan Syariah Allah.

Namun sayangnya, pencapaian kesejahteraan dan kebahagiaan ini mengalami hambatan bila diterapkan pada sistem demokrasi. 

Lantas strategi apa yang harus dilakukan untuk mengatasi hambatan tersebut?

Berjuang di dalam sistem demokrasi dengan jalan membentuk partai, mengikuti proses demokrasi hingga mendapatkan kekuasaan. Sayangnya cara ini selalu gagal. Walaupun partai Islam telah mendapatkan kekuasaan namun mereka gagal menerapkan syariat karena terjebak sistem demokrasi yang anti dengan syariah.

Sedangkan berjuang di luar sistem demokrasi yaitu dengan cara membina kader dakwah, berinteraksi dengan umat, membongkar kerusakan demokrasi dan mencari alhul quwwah yang mampu melindungi dakwah adalah cara-cara yang dicontohkan Rasulullah. 
Mulai dari pembinaan kader dakwah di Daarul Arqam hingga terbentuknya Daulah Islam pertama di Madinah.

Maka sudah seharusnya seorang muslim itu taat penuh kepada Allah swt dan mengikuti Rasulullah Saw.

Allah swt tidak akan ridho, jika sistem hukum yang diterapkan di masyarakat selain hukumnya Allah. Dalam hal ini,

Allah SWT berfirman:

اَفَحُكْمَ  الْجَـاهِلِيَّةِ يَـبْغُوْنَ ۗ  وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكْمًا لِّـقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَ

"Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?"

(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 50)

Agar diridhoi Allah, hal yang harus dilakukan adalah menerapkan Syariah secara total dalam kehidupan bermasyarakat. Dan Syariah Allah swt, tidak akan pernah diterapkan secara kaffah kecuali dalam sistem Khilafah Islamiyah.

Maka untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan tidak ada cara lain selain menerapkan Islam secara kaffah dalam naungan Khilafah.

Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan antara lain :

1. Kesejahteraan dan kebahagiaan dalam perspektif Syariah memiliki makna yang berbeda bila dilihat dalam perspektif demokrasi.

2. Kesejahteraan dan kebahagiaan syariah lebih unggul dibandingkan dengan kesejahteraan dan kebahagiaan dalam  perspektif demokrasi.

3. Konsekuensi logis bila umat lebih memilih kesejahteraan dan kebahagiaan dalam sistem demokrasi adalah umat harus tunduk pada perintah Allah, menjalankan misi hidupnya, dan berjuang di jalan Allah.

4. Faktor-faktor yang mempengaruhi pencapaian kesejahteraan dan kebahagiaan ada 2 yaitu Sistem atau aturan yang diterapkan dan pemimpin yang konsisten menerapkan aturan tersebut.

5. Untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan dalam perspektif Syariah yang harus dilakukan adalah menerapkan aturan Islam secara menyeluruh dalam bingkai Khilafah Islam.

Oleh : Thariq Bin Ziyad
(Penakluk Andalusia)

Posting Komentar

0 Komentar