Kemiskinan, Menyapa Kota Pariwisata


Ditengah gemerlap infrastruktur kota dan suguhan budaya yang menggoda wisatawan mancanegara. Kini, ada kisah
seorang bocah laki-laki di Jember, Jawa Timur, hidup dalam kondisi memprihatinkan. Akibat sakit yang diderita bocah yang kini menginjak usia 8 tahun, hanya memiliki bobot berat badan 5 kilogram.

Di usianya yang telah mencapai 8 tahun, Yoga Saputra, warga Desa Mayangan, Kecamatan Gumukmas, Jember, Jawa Timur, ini hanya bisa tergolek lemah di gendongan ibunya. Anak pertama pasangan Suwarno dan Siti Nurkalimah ini memang menderita sakit serius sejak bayi, sehingga tak memungkinkan baginya untuk dapat beraktivitas sebagaimana anak seusianya.

Tak hanya kesulitan bergerak. Secara fisik, kondisi bocah malang ini juga cukup memprihatinkan. Bobot badan yang tak lebih hanya 5 kilogram, membuat tubuh Yoga terlihat begitu kurus dengan bagian tulang yang menonjol. Sakit yang diderita Yoga sebenarnya sudah diketahui sejak 2012 silam. Kala itu sang dokter memvonisnya menderita kelainan syaraf.

Namun, karena ketidakmampuan ekonomi orangtua, membuat anak buruh serabutan ini tidak tertangani secara medis. “Dia batuk terus menerus, kemudian dibawa ke rumah sakit, dan menurut dokter spesialis anak, dia terkena komplikasi,” kata Siti Nurkalimah, Ibu Yoga.
(Jakarta, 25/01/2020/Liputan 6.com).

Hal ini menunjukkan bahwa kota Jember masih belum tuntas terbebas dari problem stunting. Stunting merupakan permasalahan gizi buruk, dimana gizi tidak didapatkan oleh generasi secara optimal sehingga mudah terserang berbagai penyakit.

Kalau kita telisik akar permasalahan dari problem ini adalah : 
Pertama, kemiskinan yang diderita oleh masyarakat karena tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya yang paling mendasar/asasi yaitu pakaian, makanan, tempat tinggal, pendidikan, dan kesehatan secara layak.
Kedua, himpitan ekonomi yang tidak tersolusi karena kesulitan ekonomi disini bersifat sistemik. 
Ketiga, rakyat menanggung biaya hidupnya sendiri sehingga harus membayar tatkala ingin mendapatkan pelayanan publik.

Sehingga dengan adanya kemiskinan, himpitan ekonomi yang melilit  akhirnya tidak mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan apa yang seharusnya dilakukan.

Oleh karena itu, selayaknya pemerintah daerah ini introspeksi apa yang seharusnya dilakukan terkait dengan pelayanan publik  atau harus memprioritaskan pembangunan pariwisata. Sementara kalau kita melihat sumber daya alam yang ada lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup rakyatnya jika dikelola sesuai dengan syari'at Islam. Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda : "Kaum muslim bersekutu (memiliki hak yang sama) dalam tiga hal : air, padang gembalaan dan api (HR. Ahmad). 

Dengan adanya pengelolaan sumber daya alam secara benar dan digunakan untuk kemakmuran rakyat tentu permasalahannya akan terselesaikan. Karenanya marilah kita kembali pada sistem aturan Islam yang sempurna mengatur seluruh aspek kehidupan.  Sebagaimana sejarah mencatat peradaban Islam itu telah mampu menguasai dan mengayomi 2/3 wilayah dunia selama 13 abad lamanya dan terbukti mensejahterakan. Wallahu A'lam bi showab.[]

Oleh : Watini Alfadiyah, S.Pd.
(Praktisi Pendidikan)

Posting Komentar

0 Komentar