Jika Alquran dan As-Sunnah Dasarnya, Perlukah Sertifikat?


Saat membuka Rakernas II dan Halaqah Khatib Indonesia di Istana Wapres Jakarta, Jumat 14 Februari 2020, Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengatakan khatib harus bersertifikat dan memiliki komitmen kebangsaan karena posisinya sebagai penceramah akan berpengaruh pada cara berpikir, bersikap, dan bertindak dari umat Islam (suaraislam.id,15/2/2020).

Juga harus memiliki pemahaman agama Islam yang benar, baik dari segi pelafazan maupun pemaknaan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, sehingga ceramah yang disampaikan para khatib tidak disalahartikan oleh umat Islam.

Masih menurut Ma'ruf Amin, khatib juga harus memiliki komitmen kebangsaan di tengah merebaknya ajaran-ajaran radikal di kalangan umat Islam. Wapres Ma’ruf menekankan ceramah agama yang disampaikan para khatib di setiap ibadah shalat Jumat harus memuat nilai-nilai Pancasila dan prinsip NKRI. Bukan Khilafah.

Ma' Ruf Amin secara sadar mengatakan  sistem khilafah, yang menerapkan Islam sebagai ideologi bernegara, secara otomatis akan tertolak di Indonesia, karena negara Indonesia sudah menyepakati Pancasila sebagai ideologi bangsa. “Ini bukan soal Islami atau tidak Islami. Jadi, kalau bicara khilafah itu tidak usah metenteng-metenteng (ngotot, red.) begitu; proporsional saja. Sudah, selesai,” katanya.

Oleh karena itu, sebagai salah satu hulu dari penyebaran ajaran Islam, Wapres Ma’ruf meminta para khatib untuk memiliki komitmen dalam menjaga keutuhan dan persatuan nasional dengan mengajak umat Islam meningkatkan toleransi, baik kepada sesama umat Islam maupun umat agama lain.

Jika syarat Khatib harus paham agama yang benar, kemudian dilarang bicara khilafah bukankah itu sangat berlawanan? Sebab khilafah murni ajaran Islam. Imam empat mahzab semua sepakat bahwa Umamah/ khilafah wajib hukumnya ditegakkan. Rasulullah pun mencontohkan negara berdasar syariat Islam, bukan yang lain.

Pemerintah menjadi Islamophobia, berbicara tak menggunakan akal sehat. Jika Islam sudah menjadi pedoman hidup mereka, mengapa justru bertindak menyembunyikan kebenaran? Layakkah seorang tokoh panutan, yang faqih fiddin mengeluarkan statement tak berdalil.

Islam adalah akidah spiritual dan politik sekaligus. Karena itulah Islam bisa disebut sebagai agama dan mabda ( ideologi), definisi mabda tak lain adalah akidah aqliyah yang menyeluruh tentang alam semesta, hidup dan manusia yang memancarkan aturan. Ketika datang perintah shalat maka akan sekaligus diatur masalah berwudu, rukun shalat, apa yang membatalkan dan tidak dan sebagainya. Itu artinya setiap datang satu syariat kaum muslim tak hanya diminta mengimani, namun sekaligus menjalani dengan benar dan sempurna.

Bandingkan dengan fakta para penyeru Pancasila dan prinsip NKRI,  nyatanya susah diambil komitmennya. Tak ada bukti otentik  bahwa sistem hari ini sudah sesuai dengan keduanya. Indonesia justru mengambil sekulerisme yang lebih buruk dari Pancasila itu sendiri. Sekulerisme memisahkan agama dari kehidupan sebagai prinsipnya, namun Pancasila, sila pertama memuat Ketuhanan Yang Maha Esa, namun adakah yang menyembah Tuhan Yang Esa selain Islam?

Maka, perkataan Ma'ruf Amin sungguh tak layak diikuti, sebab ini masalah akidah, yang setiap orang punya tanggung jawab langsung kepada Allah. Sekali kita meragukan apa yang difirmankan Allah SWT, maka selamanya kita terancam azab dan dijanjikan neraka. Nauzdubillah.

 

 

Bukan Islam yang menimbulkan terorisme juga bukan khilafah. Sebab khilafah hari ini belum tegak, bagaimana sesuatu yang belum ada wujudnya namun sudah ditakuti keberadaannya?

 

 

Demikian pula mereka yang menyerukan pemisahan diri dari wilayah NKRI, mereka yang korupsi, yang munafik, yang menipu rakyat, mengapa tak pernah dituduh melanggar Pancasila sebagai ideologi melainkan dengan keji dituduhkan kepada kelompok pejuang Islam?

Maka, kita sebagai masyarakat semestinya lebih peduli dan teliti, bukan Islam musuh kita bersama, melainkan hoax-hoax yang ditebar penguasa akibat Islamophobia yang ditekankan oleh negara asing. Jika apa yang dibicarakan khatib berasal dari Alquran dan As - Sunnah lantas pantaskah masih diberi sertifikasi dan dibiarkan ambil separo sementara yang separo dibuang?

Allah SWT berfirman:

“Apakah kamu beriman kepada sebagian al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian di antaramu melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (QS al-Baqarah: 85)

Allah melaknat siapa saja yang mengaku beriman kepada Allah SWT namun tak beriman kepada seluruh isi Alquran dan As-sunnah. Azab yang pedih telah menanti siapa saja yang nekad melakukan itu. Dan manusia-manusia sombong ini akan terus bermunculan demi urusan perut mereka selama Islam belum diterapkan secara kaffah. Wallahu a'lam Bish Showwab.[]

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih

Muslimah Penulis Sidoarjo

 

Posting Komentar

0 Komentar