Investasi dan Manufaktur, Kunci Utama Pemerataan Ekonomi

ilustrasi

TINTASIYASI.COM - Direktur Riset Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Piter Abdullah menjelaskan, pemerataan pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah di Indonesia bukan pekerjaan mudah. Sebab, Indonesia merupakan negara kepulauan dengan jumlah penduduk yang banyak dan beragam, sehingga dibutuhkan upaya lebih untuk menumbuhkan ekonomi secara bersamaan.  

Piter mengatakan, kunci utama untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang merata di Indonesia adalah investasi secara masif dan tersebar di daerah-daerah. "Kebijakan pemerintah harus fokus yang bisa memacu investasi," tuturnya ketika dihubungi Republika.co.id, Kamis (6/2). 

Investasi tersebut khususnya ditujukan kepada industri pengolahan. Piter menuturkan, manufaktur memiliki dampak pengganda atau multiplier effect lebih besar dibandingkan sektor lain. Terutama dari sisi penciptaan lapangan kerja yang berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat daerah setempat. 
Kebijakan memacu investasi ini harus dilakukan sebagai upaya tambahan dengan upaya utamanya adalah pemerataan pembangunan infrastruktur. Piter menyebutkan, tidak sekadar membangun jalan nasional, pemerintah juga harus fokus mengembangkan kawasan industri yang mampu membuat bahan baku.

Piter mengakui, segala upaya itu memang membutuhkan waktu untuk berdampak pada pertumbuhan di luar Jawa. Terlebih, banyak daerah yang masih bergantung pada komoditas sebagai pendapatan utama ekonomi mereka. 

"Maluku dan Papua, contohnya," katanya. 
Dampaknya, Piter menjelaskan, banyak daerah yang mengalami ekonomi sangat fluktuatif. Contoh terbaru, ekonomi Papua mengalami kontraksi hingga 15,72 persen pada tahun lalu akibat larangan ekspor Freeport. 

BPS mencatat, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia sepanjang 2019 berjumlah Rp 15.833 triliun dengan kue ekonomi tersebut paling besar masih dinikmati Pulau Jawa. Porsinya mencapai 59,00 persen dengan pertumbuhan ekonomi 5,52 persen, melampaui tingkat pertumbuhan ekonomi nasional, 5,02 persen. 

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, dominasi tersebut bukanlah hal baru. "Secara parsial, struktur ekonomi Indonesia tidak banyak berubah," ucapnya dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Rabu (5/2). 

Kontributor terbesar kedua adalah Pulau Jawa dengan peranan 21,32 persen, turun dibandingkan tahun 2018, 21,58 persen. Nilai ini disusul oleh Kalimantan dengan peranan 8,05 persen, yang juga turun dibandingkan tahun sebelumnya, 8,20 persen. []

Sumber Berita: https://m.republika.co.id/amp/q5a542370?__twitter_impression=true

Posting Komentar

0 Komentar