HARAPAN PENUNTASAN MASALAH BESAR UMAT ISLAM PADA KUII 2020


Muhammad Saw adalah pemimpin para Nabi. Kemuliaan pribadinya, kebesaran kepemimpinannya bukanlah perkara yang perlu didiskusikan lagi, apalagi untuk diperdebatkan. Dengan keagungan ajaran ad-Diin yang dibawanya, Muhammad Saw berhasil mengeluarkan manusia dari kejahiliyaan pemikiran, hukum, dan pandangan yang sempit nasionalisme kabilah menuju kebangkitan tertinggi yang pernah diraih sepanjang peradaban manusia ada.

Diin al-Islam yang dibawa Muhammad Saw memang tidak sama, dan tidak akan pernah sejajar dengan millah-millah lain. Islam itu khas dan unik. Diantara keunikan Islam terletak pada posisinya sebagai ideologi yang lahir dari aqidah yang shahih, aqidah Islam. Islam mencakup fikroh aqidah dan problem solving solusi problematika manusia, serta thariqah metode praktis yang realistis untuk menerapkan setiap fikroh yang dikandungnya. Sehingga Diin al-Islam menjadi sangat layak sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Oleh sebab itu, penyelenggaraan Kongres Umat Islam Indonesia (KUII)  pada 26-27 Februari 2020 mendatang hendaknya tidak menafikkan kekhasan dan keunikan Diin al-Islam. Lebih dari itu KUII ke-7 ini tidak boleh mudah diilfiltrasi oleh kekuatan manapun yang berusaha memandulkan potensi strategis dan politis yang inheren dalam ajaran Islam. Dengan kata lain, KUII di Pangkal Pinang tahun ini harus melahirkan rumusan khittah perjuangan umat Islam yang lurus dan murni, bebas dari intervensi kaum liberal-moderat, sekuleris-radikal dan komunis. Say No terhadap mereka.

Pencangkokan Moderasi Islam pada KUII ke-7

Mengusung  tema “Strategi Perjuangan Umat Islam Indonesia untuk mewujudkan NKRI Maju, Adil, dan Beradab”, MUI berharap KUII Pangkal Pinang akan menjadi forum tertinggi bagi umat Islam Indonesia. Untuk merespon berbagai permasalahan umat Islam Indonesia di bidang ekonomi, politik, hukum, keagamaan, media dan pendidikan.

 Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia, Anwar Abbas menjelaskan tema besar ini sejalan dengan penilaian Pricewaterhousecoopers yang menyatakan Indonesia akan menjadi empat negara besar dalam produk domestik bruto (republika.co.id, 08/01/2020). Nampak memberi harapan besar di tengah kondisi ekonomi makro Indonesia yang semakin labil, dan ekonomi mikro yang mengalami kelesuan akibat kesalahan mengadopsi ekonomi neoliberal yang selfdestruktif.

Dan paling banyak disorot dalam forum-forum pra KUII yakni tantangan upaya pencangkokan moderasi Islam di Indonesia oleh kelompok-kelompok umat Islam yang mengusung gagasan Khilafah, dimana mereka memainkan bahkan ‘menguasai’ jagad media sosial dan media lain untuk mengkampanyekan gagasannya.

Pendiri Media Kernels Indonesia (Drone Emprit), Ismail Fahmi dalam FGD Pra KUII ke tujuh (21/01), menyatakan narasi yang hadir di media sosial Indonesia, khususnya twitter mencerminkan kondisi yang menurutnya kurang sehat, perbincangan yang kurang produktif. Pembahasan tentang Khilafah dan radikalisme berada di posisi kedua dan ketiga. Mengkhawatirkan.

Menurut Hasanuddin Ali (Alvara Research Center,) 90% kalangan millenial dan gen z ternyata tetap menganggap agama lebih penting dalam kehidupan sehari-hari. Tentu ini perkara yang menggembirakan menurut hemat penulis. Berarti media sosial bisa dipertahankan sebagai sarana super produktif untuk counter terhadap gerakan liberalisasi, sekulerisasi, dan moderasi Islam.

Penjagaan terhadap karakter dasar Diin al-Islam yang politis-ideologis penting untuk dikuatkan. Bahaya pencangkokan gagasan moderasi Islam bisa menurunkan produktivitas berpikir umat, memandulkan daya nalar umat terhadap penyebab mendasar realitas keterpurukan bangsa dan dunia secara luas. Tanpa Islam politis-ideologis umat yang mulai sadar untuk bangkit akan kembali terjebak dalam perangkap penjajahan, dan semakin sulit untuk keluar. Moderasi Islam tak bisa dibaca melainkan dengan satu tujuan: mencangkokkan chip deislamisasi agar menjalar dalam benak umat.

Mampukah KUII 2020 nanti benar-benar menjadi forum tertinggi umat Islam Indonesia untuk membawa Indonesia maju tanpa ketergantungan kepada asing di seluruh bidang ipoleksosbudhankam.

Benar perbincangan umat harus dibawa ke arah yang lebih produktif. Rumusan masalah besar umat Islam dan roadmap jalan baru menuju Islam kaffah menjadi sangat dinanti-nantikan umat. Tokoh umat Islam yang berkumpul harus berani meneguhkan komitmen yang terakhir, “Menghentikan penjajahan global ideologi kapitalisme-sekulerisme dengan jalan politik umat untuk menerapkan Islam Kaffah.”

Jelas Bukan Salah Khilafah

Masalah ekonomi Indonesia dan penyakit korupsi  murni buah penerapan ekonomi kapitalisme sekuler sejak benihnya pada masa Orde Baru, sampai hari ini penerapan sistem ekonomi kapitalisme semakin neoliberal. Ekonomi ribawi, pajak, fiat money membawa seluruh negara di dunia collapse, termasuk Indonesia.

Penerapan sistem pendidikan yang sekuleristik juga telah gagal membangun kedalaman dan kecemerlangan berpikir pada generasi. Generasi milenial dan z tak mampu menghadapi era post truth serta propaganda firehouse of falsehood (FoF). Setiap jenjang generasi mudah terjebak proyek deradekalisasi yang sengaja diguyurkan tanpa jeda oleh propagandis-propagandis Barat atas kekhawatiran kebangkitan umat islam.

Tak ada sangkut paut antara problem bangsa dengan gagasan Khilafah, apalagi dengan institusi Khilafah yang belum menjelma sampai hari ini. Memaksa benak umat menerima kebohongan bahwa Khilafah sumber masalah bangsa, meski dengan metode FoF sekalipun tidak akan pernah berhasil. Selama realitas dunia hari ini terus diindera oleh masyarakat apa adanya, setiap kerusakannya akan semakin meyakinkan umat bahwa problem sistemik membutuhkan solusi sitemik non pragmatis.

Bahkan, menurut penulis masyarakat akan semakin tertarik untuk mempelajari tentang Khilafah dan bagaimana peta jalan penegakannya. Pertama, karena umat telah putus asa terhadap dusta kesejahteraan dalam sistem kapitalisme. Kedua, karena proses sadar dan melek realitas penyebab keterpurukan negeri adalah ideologi sesat kapitalisme-sekuler. Ketiga, karena Khilafah merupakan jawaban paling rasional menghadapi hegemoni Barat imperialis. Keempat, karena Khilafah adalah mahkota kewajiban bagi umat Islam. Wallaahu a’lam.[]

Oleh: Endiyah Puji Tristanti, S.Si (Pemerhati Politik Islam)

Post a Comment

0 Comments