Gaungan Moderasi Beragama Kian Nyaring di Bumi Pertiwi

Bulan Januari tahun 2020 setidaknya sudah berlalu. Namun, kenangan pahit, manis, asin, kecut dan semacamnya masih saja terus menghantui kehidupan. Kata orang seninya hidup yah seperti ini. Ok. Jikalau kenangannya manis setidaknya buat kita ‘senyum-senyum sendiri’ setiap kali mengingat. Jika pahit, setidaknya dapat dijadikan pelajaran. Tapi pertanyaannya sampai kapan kita memperdebatkan atau membiarkan hal-hal buruk menggurita tiap tahun, hari, bulan dan detiknya? Sampai kapan seperti ini?

Sejak penulis aktif dalam dunia literasi dan menggeluti esai atau opini, pada dasarnya selalu begini-begitu. Faktanya sama dan malah semakin beranak-pinak. Jujur, seandainya rasa cinta kepada negeri ini temporal. Mungkin, penulis sudah muak untuk sekedar duduk manis membaca, menganalisa dan menuliskan kekesalan kepada orang yang tidak tahu diri. ‘kritik-kritik manisnya penulis disalahartikan'. 
Bayang-bayang masalah satu belum kering, tumbuh lagi masalah berikutnya. Selalu begitu. 

Baru-baru ini kita disuguhi berita kontroversi jilbab-kerudung, persekusi ulama, virus cinta (bucin)-Corona, konflik Natuna, harga bahan pokok melambung, kasus korupsi yang kian menggila dan lain-lain. 

Selanjutnya, penulis melihat beberapa tahun terakhir ini gaungan moderasi beragama kian nyaring di bumi Pertiwi (Indonesia). Moderasi beragama yaitu cara pandang kita dalam beragama secara moderat, yakni memahami dan mengamalkan ajaran agama dengan tidak ekstrem, baik ekstrem kanan maupun ekstrem kiri. Intinya tengah-tengah atau sekuler. 

Ekstremisme, radikalisme, ujaran kebencian (hate speech), hingga retaknya hubungan antarumat beragama, merupakan alasan utama gaungan Islam moderat (ismo).  Sehingga, sebagian orang mengarusutamakan ismo. Bahkan sosialisasi  ini seakan tersistemik, digaungkan setiap kalangan. Buktinya bagaimana tiap menteri mengsosialisasikan ismo disetiap kesempatan dan dikatakan inilah solusi untuk Indonesia. 

Setidaknya KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur adalah sosok yang disanjung oleh lintas kalangan. Yang akhir-akhir ini namanya naik ke permukaan. Bukan hanya oleh nahdliyyin karena darah biru dan perlawanannya terhadap rezim Soeharto, namun juga oleh kalangan yang berbeda keimanan karena sikap terbuka dan pluralismenya. Dia seringkali menjadi pembela kaum minoritas. 

Pun Gus Dur dianggap sebagai representasi liberalisme oleh berbagai pihak bahkan oleh sebagian warga NU sendiri. Sikapnya yang dinilai nyeleneh dianggap sebagai sebuah ketidakpantasan bagi seorang yang dianggap sebagai sosok ulama. 

Sebelumnya polemik jilbab kembali mengemuka pada saat Deddy Corbuzier menayangkan wawancara dirinya dengan istri Gus Dur, Sinta Nuriyah dan anaknya, Inayah Wahid dalam channel Youtube-nya pada 15 Januari 2020 lalu. Tidak hanya sampai disitu, putri Gus Dur ini, Alissa Wahid pun kembali berulah dengan, menemui Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi di Jakarta, Jumat (31/1). Alissa datang ditemani ibunda, dan beberapa tokoh Gerakan Suluh Kebangsaan. 

Alissa berkata pertemuan itu dalam rangka membahas kedatangan Pimpinan Tahta Suci Paus Fransiskus berencana melakukan tur ke Asia Tenggara pada pertengahan 2020. Sebagaimana yang dikutip dalam media (CNN, Indonesia 32/1/2020). 

Dalam kesempatan itu, Alissa dan para tokoh mengusulkan beberapa acara guna menyambut Fransiskus. Namun ia belum mau membeberkannya karena baru tahap perencanaan. Mereka berharap pemerintah membuat penyambutan sebaik mungkin. Sebab kedatangan Fransiskus bisa menjadi momen baik bagi persaudaraan antarumat agama di Indonesia. 

Sikap dan pernyataan ibu anak di atas tentu tidak mengherankan. Sebab, pemikirannya tentu hasil representasi orang terdekatnya. Jangan sampai betul, kita begitu garang dengan saudara se-akidah dan lemas layaknya meong dengan yang tidak se-akidah. Toleransi boleh-berlebihan jangan! Maka, jika ada yang mengatakan ini hanya sebatas ucapan tidak sampai keperbuatan. 

Tentu ini keliru! Bukankah orang bergerak sesuai pola pikirnya dalam mengindra sesuatu. Sehingga, tingkah laku-pola pikir seseorang condong terhadap ideologi yang dimiliki. Entah dia berideologi Sosialis-Komunis, Kapitalisme-Sekuler atau ideologi Islam. 

Dalam Islam tentu kita paham bahwa tidak ada istilah Islam moderat, Nusantara, tengah-tengah, kurang, Islam berlebihan atau serumpunnya. Islam yah Islam, titik tidak pakai embel-embel di belakangnya. Tentu arus ismo yang kian deras menghantam umat sangat berdampak bagi kehidupan. Salah satunya dapat mengkebiri ajaran Islam, menyusupkan paham pluralisme (memandang semua agama benar), memecah belah umat, menimbulkan keraguan ajaran Islam dan monsterisasi dakwah syariah Khilafah. Namun, sepertinya kita sudah teperdaya istilah ismo ini. Lewat sosialisasi baik kurikulum, media, pengentalan budaya dan penyesatan sejarah. 

Sosialisasi ismo ini, tentu tidak lain karena ketakutan Barat akan kebangkitan Islam memimpin dunia. Bayang-bayang penerapan Islam kian menggema dimana-mana. Lantas saja, membuat berbagai kalangan merasa panik. Sebagaimana penelitian Dewan Intelijen Amerika Serikat (AS) menjabarkan prediksi 'kebangkitan ekonomi Asia buktinya sekarang China dan India, dipimpin AS, dan kebangkitan Khilafah. Maka wajar saja, pihak mereka kepayangan membendung arus ini. 

Lalu, bagaimana upaya kita sebagai umat Islam membendung arus ismo. Tentu dengan memahami Islam sebagai sebuah ideologi. Pada kenyataannya baik ideologi kapitalis-sosialis komunis paham bahwa sebuah ideologi tidak akan bergandengan mesra. Tapi, demi kepentingan semua bisa lunak. Meski kapitalis mengaku paling demokratis nyatanya ia tidak menerima Islam politik. Mereka ekstrimis yang tidak se-ideologi dengannya. 

Kemudian, bagaimana Islam menyikapi pemahaman sesat? Dengan mendidik setiap umat dengan kurikulum Aqidah, hukuman tegas bagi pelakunya sampai hukuman mati. Selanjutnya sistem Islam akan mengontrol media massa baik cetak atau elektronik sesuai Aqidah Islam. Mengenai penjabaran di atas tentu sangat luar biasa Islam mengontrol pemahaman umatnya. Jika penulis rindu akan aturan Islam, lalu kalian yang baca tulisan ini apa tidak rindu juga? Tentu rindu. Bukankah kerinduan-kebahagiaan harus dijemput? Penulis mengajak mari menjemput janji Allah mengenai kebangkitan Islam. Jadi pejuang, pecundang, penyinyir, dan sejenisnya tentu pilihan kita yang berangkat dari sebuah ideologi yang kita miliki. Wallahu a'lam.[]

Oleh: Ika Rini Puspita (Penulis buku 'Negeri ½’)

Posting Komentar

0 Komentar