Bullying, Buah Dari Gagalnya Sistem Berbasis Sekuler


Kasus perundungan atau bullying bak fenomena gunung es yang terus memakan korban. Dilansir inilahkoran.com setidaknya dalam kurun waktu 9 tahun dari tahun 2011 hingga 2019 ada 37.381 pengaduan. Untuk bullying baik di pendidikan maupun sosial media mencapai 2.473 laporan.

Jika kita mengamati kasus bullying ini kadarnya semakin meningkat dan membahayakan. Bahkan Januari sampai Februari 2020 , setiap hari publik disuguhi berita fenomena kekerasan anak. Seperti siswa yang jarinya harus diamputasi, kemudian siswa yang ditemukan meninggal di gorong-gorong sekolah, serta siswa yg ditendang lalu meninggal.
Tindakan bullying dapat terjadi secara fisik, psikis maupun verbal. Bullying secara fisik bisa berupa tindakan menendang , memukul dan sebagainya. Bullying secara psikis dapat berupa intimidasi, penghancuran citra dan ancaman. 

Sedangkan bullying secara verbal berupa kata-kata atau ucapan dalam bentuk panggilan nama, komentar  tak pantas yang keluar dari mulut pelaku bullying.
Munculnya kasus ini tidak lepas dari sistem kapitalis sekuler yang dianut negeri ini , dimana telah mengeliminasi peran agama dalam membentuk kepribadian generasi. Ditambah diperburuk oleh buruknya sistem sosial, penataan media serta buruknya pendidikan keluarga hari ini yang kita dapati pada keluarga muslim.

Buruknya sistem sosial di negeri ini membuat anak-anak saat ini sangat individualistik, tidak memahami bahwa antara individu mereka dg sesamanya adalah saudara. Sebagai mana hadist riwayat Bukhari "Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lainnya. Tidak boleh mendhaliminya dan tidak boleh pula menyerahkan kepada orang yang hendak menyakitinya." Karena minimnya nilai-nilai islam yang ditanamkan.

Buruknya media yang begitu bebas menayangkan tayangan kekerasan, yang ini bisa jadi salah satu pemicu generasi melakukan kekerasan. Sedangkan pendidikan didalam rumah hari ini tidak didominasi pada pendidikan islam karena minimnya pemahaman orang tua dan anggota keluarga terhadap  nilai-nilai islam yang seharusnya ditanamkan pada anak dalam keluarga itu juga turut menyuburkan kasus bullying. 

Alhasil , generasi begitu mudah teracuni gaya hidup sekuler. Minimnya Pemahaman agama telah merusak moral generasi.
Bullying sebagai problem massif bangsa ini seharusnya menyadarkan kegagalan pembangunan sumber daya manusia dengan landasan sekulerisme.

Sudah seharusnya seluruh elemen negeri ini berbenah. Mengevaluasi fungsi peran negara dalam membantu  pelaksanaan edukasi serta turut dalam memahamkan nilai-nilai agama dalam membentuk imunitas generasi dari virus sekulerisme. Rasulullah SAW bersabda "Seorang imam (khalifah atau kepala negara) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat dan ia akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rakyatnya." (HR. Bukhari & Muslim).

Islam memiliki solusi yang jitu dalam mencetak generasi cemerlang . Melalui penyelenggaraan sistem pendidikan yang berdasarkan aqidah islam . Dimana negara berkewajiban untuk mengatur segala aspek yang berkenaan dengan sistem pendidikan islam yang diterapkan baik kurikulum, cara pandang dan penanaman nilai-nilai dalam program pembelajaran sesuai aqidah islam.

Sistem pendidikan islam juga memiliki prinsip yang jelas bagaimana identitas seorang muslim, bagaimana negara menyiapkan keluarga, sekolah dan masyarakat untuk mewujudkan generasi berkepribadian islam yang tangguh, berakhlak karimah dan memiliki rasa takut kepada Allah sehingga tidak gampang merendahkan sesamanya dengan cara mencemooh, menghina bahkan sampai melakukan tindakan kekerasan.
Wallahu a'lam bishowab.[]


Oleh : Nurul Afifah
(Ibu Rumah Tangga)


Posting Komentar

0 Komentar