Umat Islam Kembali Tertipu, Yuk Move On!

Akhirnya sadar juga, saat ini kaum muslimin telah banyak yang tertipu. Pengakuan  Prof Dr KH Said Aqil Sirodj, Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama pada saat berbicara dalam wisuda sarjana Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) di Parung Bogor, Jawa Barat, beberapa waktu lalu, memang mengagetkan, tetapi juga menyadarkan audiens beliau. Beliau mengatakan bahwa “Ketika Pilpres, suara kita dimanfaatkan. Tapi ketika selesai, kita ditinggal.” – Umat islam hanya di manfaatkan. Tak hanya itu, beliau juga membeberkan kegagalan pemerintah RI saat ini. (rmolbanten.com 29/12/2019)

Aksi beliau ini berawal dari kekecewaan beliau terhadap Menteri Keuangan, Sri Mulyani yang ingkar janji, “Pernah kami MoU dengan Menteri Sri Mulyani katanya akan menggelontorkan kredit murah Rp 1,5 triliun. Ila hadza yaum, sampai hari ini, satu peser pun belum terlaksana. Ini biar tahu anda semua seperti apa pemerintah ini,” ucap Said dalam video yang beredar (Gelora.co 27/12/2019)

Hal ini bukan kali pertama umat Islam kembali menaruh harapan pada pemerintahan sekuler demokrasi yang pada akhirnya dibalas dengan kekecewaan demi kekecewaan. Tak hanya rupiah yang dijanjikan akan diberikan, tetapi seribu janji memikat umat Islam ditunjukkan, berjanji akan membela ulama, berjanji akan mensejahterakan rakyat, berjanji tidak berhutang pada asing, berjanji untuk mengatasi banjir dan sebagainya. 

Sayangnya semua punah ketika jabatan telah digenggam, karena nyatanya mereka tak memiliki pijakan benar nan solutif atas masalah negeri ini. Akankah kita mau kembali tertipu wahai umat Islam?
Hampir seluruh umat Islam di Indonesia berdiri dalam barisan-barisan ormas yang semuanya menginginkan kejayaan Islam. 

Menginginkan persatuan dan kesejahteraan umat. Jumlah besar inilah yang menggiurkan mereka, hingga diperdayai untuk dapat menjadi pendorong rezim rusak, dimanfaatkan suaranya, dibeli dengan nilai yang kecil, ditukar dengan janji-janji dan pencitraan. Memang itulah yang mereka lakukan agar mendapatkan kemenangan atas suara terbanyak, bukan pada siapa yang mampu, orang yang tepat, atau orang yang amanah. 

Tapi, pada pemilik suara terbanyak yang nilai suara orang gila dan waras dihitung sama. Seperti inilah sistem demokrasi yang batil, suara rakyat adalah suara Tuhan. Tetapi suara rakyat dapat diatur dengan uang. Pada akhirnya suara kapitalislah yang memegang kemenangan. Apakah kita penghamba uang saudara-saudara?
 
Jelas tidak. Maka sebuah keharusan bagi kita untuk mengembalikan peran ormas pada jalurnya. Ditengah arus perpolitikan sekuler yang transaksional, apa yang menguntungkan dijadikan kawan dan yang merugikan akan ditendang. Sebagai umat Islam yang saling bahu-membahu dalam ormasnya masing-masing hendaknya meyakini bahwa tugas kita lebih mulia daripada harta dunia dan seisinya.  Amar ma’ruf nahi munkar. Itulah tugas utama kita. 

Allah berkalam dalam QS. Ali Imran: 104 “Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”

Amar ma’ruf nahi munkar tak hanya berlaku bagi individu tetapi juga masyarakat hingga pada penguasa. Itulah misi kehadiran ormas di tengah masyarakat. Tidak akan membiarkan penguasa mengdzalimi rakyat, sehingga terus menerus melakukan muhasabah dan kritik akan jalannya pemerintahan. Semua itu dilakukan tanpa mengharapkan imbalan duniawi ataupun malah berebut mengambil hati para penguasa demi kucuran dana. 

Berpegang teguh pada kebenaran syari’at Islam, tidak ada kompromi terhadap kedzaliman dan kecurangan, dan hanya mengharapkan ridho Allah SWT. Amal inilah yang saat ini dibutuhkan oleh umat, bukan suntikan dana yang justru membutakan umat dari kebobrokan sistem demokrasi sekuler yang bertentangan dengan konsep kepemimpinan dan politik dalam Islam. Jangan sampai kita kembali tertipu, yuk move on pada Islam![]

Oleh: Anny Izzatul Mujahidah

Posting Komentar

0 Komentar