Menikah Dini, What's Wrong?


Ketertarikan laki-laki pada perempuan dan perempuan pada laki-laki merupakan naluri yang secara alami dimiliki oleh setiap insan. Naluri ini munculnya sejak dini dan akan berkembang seiring dengan perkembangan usia. Pada usia muda naluri akan cinta pada lawan jenis ini lebih dominan. Hingga akhirnya ada yang harus menikah pada usia dini.

Sementara pada usia muda menjadi kesempatan mereka untuk memperbanyak kiprah dan langkah. Mulai dari melanjutkan jenjang pendidikan hingga berkarir mencari pengalaman kerja. Namun karena faktor tertentu, beberapa diantara mereka harus memendam erat mimpinya untuk bisa lanjut sekolah atau berkarir. Salah satunya adalah karena menikah di usia dini.

Sejumlah kalangan menilai, nikah muda menjadi salah satu penyumbang angka perceraian. Hal itu dikarenakan minimnya bekal pengetahuan untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Selain itu, mereka juga dinilai kurang siap secara psikis maupun secara kemandirian ekonomi.

“Kalau fenomena itu berdampak merugikan anak-anak dan terus dibiarkan tidak ada tindak lanjut padahal sudah diketahui, maka itu bisa disebut sebagai pelanggaran hak anak,” kata Nanang Abdul Chanan, Konsultan Pengembangan Kabupaten layak anak, dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA) pusat.

Ia menilai, seharusnya keluarga menjadi institusi pendidikan yang utama dan pertama untuk anak. Jika anak menikah dengan persiapan yang belum matang, hal itu dianggap sebagai kegagalan dalam pemenuhan hak anak.

Mengenai usia kematangan itu, katanya, memang memiliki ukuran yang berbeda-beda, namun kesemuanya memiliki dasar yang jelas. Seperti dalam UU No 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, UU No 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak, dan UU Nomor 35 tahun 2014 tentang Hak Asasi Manusia (HAM). Bahkan ia menyebut, dalam konferensi Internasional PBB, juga tertuang Hak Anak Internasional yang ditaati oleh seluruh negara-negara di dunia, termasuk oleh Indonesia sendiri.

“Batas usia anak yang berlaku internasional itu 18 tahun. Sedangkan di Indonesia seperti kepemilikan KTP, SIM identitas lain harus 17 tahun. Hanya untuk pernikahan yang memberlakukan 19 tahun,” tambahnya.

Nanang  juga menganjurkan agar orang tua perlu memberikan jeda saat mereka telah usia menempuh pendidikan lanjut. Bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi atau mengajarkan mereka mencari pengalaman kerja. “Itu lebih baik, dari pada mereka baru lulus sekolah SD, atau SMP sudah menikah,” tuturnya.

Ia menambahkan, dari 5 hak anak, yang kadang luput dari perhatian adalah hak anak mendapat pendidikan layak 12 tahun.  Meskipun ada hak anak lain yang juga harus dipenuhi seperti hak berkembang, hak bermain, hak mendapatkan perlindungan, dan hak mendapat fasilitas.

Ia meyakini, tidak terpenuhinya salah satu hak mereka, bisa memicu berbagai  dampak. Mulai dari kekerasan pada anak hingga putus sekolah. Bahkan, jika mereka mereka putus sekolah dan menikah, mereka bisa alami gangguan repoduksi, kesenjangan ekonomi, problem keluarga, hingga memicu perceraian.

Sementara itu, Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat (Kasi Bimas) Kemenag Jember Misbahul Munir membenarkan. Dalam UU Perkawinan yang baru, memang mengubah batas minimal menikah bagi laki-laki dan perempuan. “Sebelumnya, batas usia nikah untuk laki-laki 19 tahun dan perempuan 16 tahun. Sekarang sudah ditetapkan laki-laki perempuan sama-sama 19 tahun minimal,” paparnya.

Ia menilai, memberikan batasan usia nikah itu merupakan upaya tepat untuk menekan angka pernikahan muda dan perceraian dini. Selain itu, ia sependapat bahwa kawin muda memiliki potensi yang kurang baik.

“Pernikahan harus dipersiapkan sebaik mungkin, tentunya dengan berbagai bekal dan pengetahuan. Karena orang nikah pasti nanti punya masalah, minimal saat itu tiba, mereka sudah punya bekal pengetahuan,” tutupnya.(30/12/2019/JEMBER, RADARJEMBER.ID)

Menikah pada usia muda seolah akan menuai masalah, bahkan hingga berujung pada perceraian. Namun, permasalahan yang mendasar tidak lain adalah pelaku itu sendiri sejauh mana persiapannya dalam mengarungi bahtera kehidupan berumahtangga.

Bangunan rumahtangga akan terbentuk karena adanya pernikahan. Dan kokohnya bangunan rumahtangga karena adanya persiapan pondasi yang kuat dari pernikahan. Lalu, pondasi  seperti apa yang harus dipersiapkan tidak lain adalah memahami esensi dari pernikahan itu sendiri.

Bagaimana Islam memandang pernikahan?

Adapun esensi dari pernikahan itu pada dasarnya, dalam rangka untuk melaksanakan sunah Rasul, untuk memenuhi naluri, penyempurna agama, menguatkan ibadah, memperoleh ketenangan, melangsungkan keturunan, dan merupakan investasi akhirat.

Islam telah menganjurkan dan bahkan memerintahkan kaum muslim  untuk melangsungkan pernikahan.

Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda : "Wahai para pemuda, siapa saja di antara kalian yang telah mampu memikul beban, hendaklah ia segera menikah, karena hal itu dapat menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan. Sebaliknya, siapa saja yang belum mampu, hendaklah ia berpuasa, karena hal itu dapat menjadi perisai." (HR. Imam yang lima).

Dalam hadits tersebut Rasulullah Saw menggunakan kata syabab yang sering digunakan untuk sebutan pemuda, akan tetapi yang di maksud dengan syabab disini adalah seorang yang telah mencapai masa aqil baligh.

Dalam khazanah hukum Islam, seorang laki-laki yang baligh ditandai dengan mimpi basah, mengeluarkan sperma (ihtilam). Sedangkan perempuan yang baligh ditandai pernah menstruasi (haid). Berapa umurnya? 

Sangat variatif, karena dipengaruhi banyak faktor. Bisa jadi ada yang sudah ihtilam atau haidz sebelum usia 12 tahun, tapi ada juga yang diatas umur itu, belum juga haidz atau ihtilam. Dengan demikian, jelas kalau sudah beligh saat itu juga mulai terkena taklif (beban) hukum syari'at, atau orangnya disebut  mukallaf(orang yang terbebani hukum). Sehingga saat itu juga kalau tidak menunaikan kewajiban, atau melakukan yang haram maka saat itu  berdosa.

Lalu bagaimana halnya jika menikah pada usia dini/muda yakni batasannya kalau usia sudah baligh dan mampu memikul beban pernikahan, yang berarti harus bisa diantara suami dan istri saling menunaikan kewajiban hingga hak masing-masing terpenuhi. Dimana, Kewajiban suami yaitu : 

Pertama, mempergauli isteri dengan ma'ruf.

Kedua, menjadi pemimpin dalam rumah tangga.

Ketiga, berkewajiban memberikan nafkah yang layak kepada isteri dan anak-anaknya. 

Kewajiban isteri yaitu :
Pertama, mentaati suami.
Kedua, menjadi ibu dan pengatur rumah tangga(ummun wa rabbatul al-bait). Jika kewajiban tersebut tertunaikan maka hak masing-masing akan didapatkan.

Yang semuanya dilakukan dengan hanya berharap akan keridhoan dari Allah, dengan begitu akhirnya menuai pahala dari pernikahannya tersebut. Itulah pondasi yang harus dipersiapkan dalam pernikahan untuk mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga. Wallahu a'lam bi as-showab.[]

Oleh : Watini Alfadiyah, S.Pd.
(Praktisi Pendidikan)

Post a Comment

0 Comments