Jilbab: Perintah Agama Bukan Budaya


Sebagai Negara muslim terbesar dunia. Negeri ini harusnya mampu menjadi sponsor penerapan syariat kepada dunia. Sayang, sejumlah pertentangan hukum syara’ tak luput jua kita alami. Sebut saja peristiwa belum lama ini.  Kita dikejutkan dengan ungkapan salah satu tokoh penting bangsa yang mengatakan bahwa jilbab tidaklah wajib. Bahkan memakai hijab adalah budaya. “Enggak, dari dulu enggak pernah. Itu kan budaya,” kata Inayah Wahid Putri dari Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid (www.viva.co.id, 16/01/2019). Begitu pula dengan ungkapan sang Ibu Sinta Nuriyah. Bahkan sang Ibu mengambil contoh keluarga kerajaan Arab Saudi yang juga saat ini sudah buka-buka, tidak pakai hijab lagi (www.viva.co.id, 16/01/2019). 

Tak pelak rakyat pun dibuat bingung, benarkah jilbab itu budaya? Dan hukumnya tak wajib atas muslimah? 

Allah Swt Mewajibkan Jilbab Bagi Muslimah!

Pertama, harus dipahami bahwa penerapan hukum Islam tak mengenal batas wilayah ataupun negara. Karena Islam diturunkan untuk mengayomi dunia seluruhnya. Sebagaimana misinya, menebar rahmat bagi semesta alam. Kitab suci Alquran memang turun di tanah Arab, namun tidak berarti seruanNya hanya berlaku bagi penduduk arab saja. Melainkan untuk segenap penduduk dunia seluruhnya dimanapun berada. 

Begitu pula dengan perintah mengenakan jilbab. Perintah ini termaktub dalam Alquran surah Al Ahzab ayat 59 yang berbunyi, “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang Mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka!” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Dalam surah di atas, seruan Allah Swt ditujukan kepada segenap muslimah. Sebagai wujud dari konsekuensi keimanan mereka.

Tidak hanya di surat Al Ahzab ayat 59. QS An nur ayat 31 pun menjelaskan benda berikutnya yang dipakai untuk menutup aurat, yakni khimar (kerudung). Sebagaimana firman Allah Swt berikut ini. 
“…Dan hendaklah mereka menutup kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka,  atau ayah suami mereka, atau putra-putri mereka, atau putra-putri suami mereka atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putri suadara perempuan mereka atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita…”

Jadi, jelaslah sudah bahwa Allah Swt memerintahkan para wanita mukminah yang telah baligh (dewasa) untuk menutup auratnya dengan jilbab serta kerudung. Saking wajibnya, para ulama pun sepakat satu suara tak ada ikhtilaf dalam urusan ini.  

Makna jilbab dalam kamus Al Muhith ialah pakaian yang lebar seperti terowongan   (tidak terpotong), gamis/jubah yang longgar untuk wanita serta dapat menutup pakaian wanita sehari-hari. Sedang di dalam kamus Al Munjid, jilbab diartikan sebagai gamis/jubah atau baju yang longgar. Dan terakhir dalam kamus Al Munawir jilbab adalah baju kurung panjang sejenis jubah. Jadi, berbeda makna antara khimar (kerudung) dan jilbab (gamis/jubah). 

Lantas, Mengapa Dipersoalkan?

Kita tentu harus menyadari bahwa sampai akhir dunia, pergulatan antara yang haq dan batil akan terus terjadi. Guna menyeleksi siapa yang akan tetap istikamah dengan kebaikan atau malah terjerumus ke dalam lembah kenistaan. 

Adalah golongan liberalis, yang tiada henti-hentinya mempertentangkan dalil agama dengan fakta kehidupan. Konsep agama selalu dinilai tak relevan sehingga dipaksa untuk disesuaikan dengan zaman. Padahal zamanlah yang sejatinya harus tunduk pada Alquran. Pasalnya Alquran memuat kabar apa dan bagaimana wajah dunia ke depan sampai akhir zaman.  Dengan modal keimanan harusnya kita tak perlu ragu atas kebenaran ini. 
---
Sayangnya, tidaklah demikian pandangan kalangan kaum liberalis.  Inilah sesat pikir mereka yang kerap mempersoalkan sesuatu yang sudah final. Dalil syara’ tentu sukar diperdebatkan terlebih itu menyangkut pesan-pesan Ilahi. 

Meski begitu, kondisi ini subur seolah mendapat ruang dan waktu untuk berekspresi. Ya, ide kebebasan merupakan salah satu kelumrahan dari sistem sekuler hari ini.  Dalam sistem sekuler kapitalis, gerbang kebebasan dibuka lebar. Setiap orang pun bebas untuk berekspresi serta mengeluarkan pendapat/pikiran tanpa harus berkaca pada rambu-rambu agama. Karena memang, agama tidak dikehendaki untuk eksis dalam kehidupan umum, apalagi dalam urusan politik kenegaraan. 

Sehingga wajar, bila kran kebebasan itu dol. Paham apapun diizinkan bermuara di dalam kehidupan. Bahkan fakta terbaru, telah lahir metode tafsir moderat/tafsir maqashidi, yaitu sebuah metodologi tafsir untuk memahami dan menafsirkan Alquran dan Hadis secara moderat. Dan harapannya akan menjadi penengah dua ketegangan epistemologi tafsir antara yang tekstualitas dengan yang liberalis (Republika.co.id, 13/01/2020). Sungguh ini adalah sinyal bahwa paham liberal dibukakan jalan untuk terus eksis.

Padahal jauh hari Nabi Saw telah ingatkan. Tidak boleh menafsirkan Alquran dengan menyandarkan pada akal dan kecerdasan seseorang.  Sebagaimana pesan Rasulullah Saw, “Barang siapa berkata tentang Alquran (menafsirkan Alquran) dengan akalnya, ternyata benar, maka sungguh dia telah berbuat salah.” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud) Benar sekalipun, tetap itu salah. 

Menyikapi kondisi ini, kita tentu tak punya pilihan lain, selain kembali memperkuat benteng keimanan dengan senantiasa mengikatkan diri dengan pemikiran serta pemahaman Islam yang sejati dan murni. Agar tidak tergerus oleh derasnya arus liberalisasi yang menyesatkan umat hari ini. Harus disadari serta dipahami bahwa jilbab serta perintah agama lainnya, berlaku atas kaum muslimin seluruhnya dimanapun berada terlepas dari batas-batas wilayah. Wallahu’alam 

Oleh: Aina Syahidah

Post a Comment

0 Comments